kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Saham Bumi Resources Minerals (BRMS) direkomendasikan wait and see


Selasa, 26 Maret 2019 / 21:05 WIB


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbaikan kinerja yang diklaim oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di 2018, rupanya tidak serta merta membuat saham emiten itu bisa langsung dilirik. Analis Panin Sekuritas William Hartanto menyarankan investor untuk wait and see.

Sebagai informasi, melakukan divestasi 51% saham BRMS di PT Dairi Prima Meneral (DPM), proyek seng dan timah hitam, ke NFC China dengan nilai mencapai US$ 198 juta. Selain itu, BRMS juga telah melunasi pinjaman ke pihak ketiga. "Saya memandang, perbaikan kinerja ini lebih karena divestasi, bukan murni karena operasional mereka," kata William kepada Kontan.co.id, Selasa (26/3).

Meskipun begitu, William berharap divestasi tersebut nantinya mampu membawa kinerja keuangan BRMS ke arah yang lebih baik di masa mendatang.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membukukan penurunan penjualan dan pendapatan usaha sebanyak 76,36% atau menjadi US$ 1,18 juta di akhir 2018 dari pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 5 juta.

Beban usaha yang jauh lebih tinggi, yakni sebesar US$ 6,03 juta jika dibandingkan dengan pendapatan menyebabkan BRMS mencatat rugi usaha US$ 4,84 juta. Kinerja emiten tambang ini tertolong oleh laba selisih kurs yang mencapai US$ 306.724, serta biaya keuangan yang sudah tidak ada.  Beban bunga dan keuangan BRMS pun turun menjadi US$ 44.798 dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 9,59 juta.

Selain itu, BRMS tidak lagi mencatat penurunan nilai aset yang pada tahun 2017 mencapai US$ 127,94 juta. Tapi, emiten Grup Bakrie ini mencatat kerugian pelepasan investasi sebesar US$ 92,44 juta. Kedua pos ini berasal dari penjualan aset Dairi Prima Mineral.

Pada akhir 2018, emiten ini mencatat rugi bersih US$ 103,50 juta. Kerugian ini menurun 55,58% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih rugi US$ 232,99 juta. "Wajar kalau kas meningkat karena divestasi. Sedangkan beban yang menurun bisa jadi terkait dengan saham yang didivestasikan," ungkapnya.

Dengan begitu, William mengaku belum bisa merekomendasikan saham BRMS kepada investor. Menurutnya, harus menunggu ada pergerakan dari saham Grup Bakrie, untuk kemudian bisa mendorong naik saham BRMS ke depannya.

"Kalau untuk sekarang, rekomendasinya masih wait and see. Dilihat dari sisi sektoral juga masih stagnan, meskipun BRMS akan menambah tambang emas di kuartal keempat, namun sektor komoditas masih terkesan stagnan tahun ini," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×