Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Volatilitas nilai tukar rupiah mendorong investor ritel agar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing.
Berdasarkan data Bloomberg, pada Jumat (1/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.337 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis 0,05% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 17.346 per dolar AS.
Meski demikian, secara bulanan USD/IDR masih mencatat kenaikan 1,79% dan telah menguat 3,99% sejak awal tahun
Baca Juga: Saham Island Concepts (ICON) Melesat Pasca Cetak Laba, Cek Rekomendasi dari Analis
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari pergerakannya terhadap sejumlah mata uang global lainnya. GBP/IDR naik 3,88% secara month on month (MoM) dan 4,42% year to date (ytd), CHF/IDR menguat 3,14% MoM dan 4,58% ytd, sementara AUD/IDR mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,77% MoM dan 9,98% YtD.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengingatkan, investor tidak disarankan untuk terlalu agresif mengejar kenaikan dolar AS di level puncak karenapotensi koreksi tetap terbuka di tengah dinamika pasar yang cepat berubah.
Sebagai langkah antisipatif, investor dinilai tetap perlu memiliki sebagian aset dalam bentuk dolar AS sebagai lindung nilai (hedge), terutama di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, strategi masuk bertahap atau akumulasi dinilai lebih rasional dibandingkan melakukan pembelian sekaligus dalam jumlah besar di satu level harga.
Di sisi lain, disiplin dalam merealisasikan keuntungan juga menjadi kunci. Investor disarankan mulai mengambil profit apabila nilai tukar telah mengalami kenaikan signifikan dalam waktu relatif singkat.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan portofolio serta mengurangi risiko terjebak pada level harga yang terlalu tinggi saat terjadi pembalikan arah pasar.
Sementara itu, Kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai pendekatan yang disarankan untuk investor ritel adalah menjaga likuiditas, menghindari posisi valas yang terlalu spekulatif, memilih aset berkualitas, dan tidak terlalu agresif mengambil risiko sebelum ada kejelasan harga minyak dan arah kebijakan bank sentral AS.
Baca Juga: Entitas Menara Telekomunikasi Milik Djarum Perpanjang Masa Pinjaman Rp 4 Triliun
"Dalam situasi seperti sekarang, yang paling penting bukan menebak titik rupiah secara sempurna, tetapi memastikan portofolio dan neraca usaha tetap tahan jika rupiah bergerak lebih lemah sementara waktu," kata Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













