kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Rupiah tertekan karena memanasnya situasi politik domestik dan luar negeri


Selasa, 01 Oktober 2019 / 17:37 WIB

Rupiah tertekan karena memanasnya situasi politik domestik dan luar negeri
ILUSTRASI. Uang rupiah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kembali terjadi pada kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Selasa (1/10). Mengutip Bloomberg, rupiah mengalami koreksi hingga 0,15% ke level Rp 14.216 per dolar AS. 

Di kurs tengah BI yang juga tertekan sebesar 0,16% ke level Rp 14.196 per dolar AS. 

Direktur PT Garuda berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah masih didominasi oleh faktor internal dan eksternal. Di eksternal, salah satu faktor yang melemahkan rupiah yakni kondisi Hong Kong yang masih bergejolak. 

Baca Juga: Rupiah menembus level Rp 14.216 per dolar AS perdagangan Selasa (1/10)

Selain itu, Ibrahim juga menilai konflik Brexit mulai kembali memanas juga turut melemahkan rupiah. Brexit kembali memanas seiring rencana Perdana Menteri Boris Johnson untuk menghindari perbatasan keras di pulau Irlandia ke Uni Eropa. 

Rencana ini dinilai melibatkan serangkaian pusat bea cukai yang terletak di sekitar perbatasan. “Secara efektif menciptakan perbatasan yang keras dalam semua hal kecuali nama, dan dengan demikian secara efektif melanggar Perjanjian Jumat Agung yang telah dijanjikan oleh AS dan UE untuk dihormati,” ujar Ibrahim. 

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebutkan aksi unjuk rasa masih menimbulkan tekanan untuk rupiah. Situasi keamanan yang masih belum stabil memungkinkan keadaan kembali memanas kapan saja sehingga investor bersikap menahan diri. 

Baca Juga: Pukul 10.43 WIB: Rupiah ke Rp 14.198 per dolar AS, loyo tujuh hari berturut-turut

“Kalau kondisi semakin dirasa tidak aman, maka ada risiko arus modal asing berbalik keluar sehingga rupiah bakal tertekan lagi,” jelas Ibrahim. 
Ibrahim menilai rupiah masih akan melemah hingga esok hari. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.185-Rp 14.225 per dolar AS. 


Reporter: Adrianus Octaviano
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×