Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada awal pekan. Namun, penguatan ini dinilai belum cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan yang masih rentan di tengah tekanan eksternal dan menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,12% ke level Rp 17.168 per dolar AS pada Senin (20/4/2026), dari sebelumnya Rp 17.189 per dolar AS.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai pergerakan rupiah yang masih bertahan di kisaran Rp 17.000–Rp 17.190 mencerminkan kondisi yang rapuh.
"Pada pekan RDG Bank Indonesia, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka, khususnya jika BI menegaskan langkah stabilisasi rupiah," ujar Amru kepada Kontan, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.168 Per Dolar AS Hari Ini (20/4), Asia Melemah
BI dijadwalkan menggelar RDG pada Selasa (21/4) hingga Rabu (22/4). Meski demikian, Amru memperkirakan ruang penguatan rupiah akan terbatas, seiring ekspektasi pasar bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
Menurutnya, arah rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Dari eksternal, penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS serta harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 90 per barel turut menambah tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Sementara dari domestik, pelaku pasar mencermati sejumlah risiko, mulai dari isu fiskal, potensi revisi outlook peringkat kredit Indonesia, hingga tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Amru memperkirakan rupiah masih akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah dalam waktu dekat, seiring dominasi sentimen eksternal dan terbatasnya ruang kebijakan moneter.
"Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.250 per dolar AS," kata Amru.
Memasuki kuartal II-2026, risiko stagflasi menjadi perhatian utama. Tingginya harga minyak berpotensi mendorong inflasi melampaui target BI, di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum solid.
Kondisi ini membuat ruang kebijakan semakin sempit dan menjaga volatilitas rupiah tetap tinggi dengan bias melemah.
Bagi investor ritel, Amru mengingatkan pentingnya mewaspadai lonjakan volatilitas akibat faktor global serta risiko inflasi impor dari kenaikan harga energi.
Pelemahan rupiah juga mulai berdampak pada sektor riil, salah satunya tercermin dari kenaikan harga BBM non-subsidi.
Investor disarankan mencermati arah pasar menjelang dan setelah RDG BI serta melakukan diversifikasi portofolio guna memitigasi risiko di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Baca Juga: Anak Usaha Barito Renewables Energy (BREN) Raih Penghargaan PROPER Emas dari KLH
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













