kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Rupiah Kian Dekati Rp 18.000, Ini Deretan Mata Uang Alternatif Selain Dolar AS


Kamis, 15 Oktober 2026 / 16:25 WIB
Rupiah Kian Dekati Rp 18.000, Ini Deretan Mata Uang Alternatif Selain Dolar AS
ILUSTRASI. Pasokan uang rupiah beredar tumbuh positif Juli 2026 (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang kian mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat investor perlu mencermati pilihan mata uang lain. Selain dolar AS yang selama ini menjadi aset lindung nilai, franc Swiss, yen Jepang, dolar Australia, dolar Selandia Baru, hingga dolar Singapura memiliki karakteristik yang dapat menjadi pertimbangan investor.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup melemah 0,20% ke level Rp 17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 17.948 per dolar AS, melemah dari Rp 17.898 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi mengatakan dolar AS masih menjadi pilihan aset lindung nilai atau safe haven tradisional.

Baca Juga: Rupiah Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS, Efek Domino ke Sektor Riil Patut Diwaspadai

“Dolar AS tetap menjadi safe haven tradisional karena likuiditas dan kedalaman pasarnya,” ujar Rahma kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Meski demikian, investor dapat mempertimbangkan mata uang lain dengan melihat karakteristik ekonomi negara penerbitnya. Franc Swiss, misalnya, memiliki daya tarik dari sisi stabilitas politik, surplus transaksi berjalan, dan tingkat inflasi yang relatif rendah.

Yen Jepang juga dapat dipertimbangkan sebagai mata uang defensif. Namun, pergerakannya tetap dipengaruhi arah normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan. Karena itu, perkembangan suku bunga Jepang menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor.

Adapun dolar Australia dan dolar Selandia Baru memiliki keterkaitan dengan pergerakan harga komoditas. Dolar Australia juga memiliki likuiditas yang relatif baik di kawasan Asia-Pasifik.

Di kawasan Asia Tenggara, dolar Singapura dapat menjadi alternatif lain. Mata uang ini didukung kerangka kebijakan nilai tukar yang dikelola oleh Monetary Authority of Singapore (MAS).

Rahma bilang, perbedaan karakteristik masing-masing mata uang membuat investor perlu mencermati faktor yang memengaruhi pergerakannya. 

“Franc Swiss memiliki daya tarik karena stabilitas politik, surplus transaksi berjalan, dan inflasi yang rendah. Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru berkaitan dengan pergerakan komoditas, sedangkan yen Jepang dipengaruhi normalisasi kebijakan moneter,” tutur Rahma.

Dengan karakteristik tersebut, investor perlu menyesuaikan pilihan mata uang dengan tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko.

Baca Juga: IHSG Ambruk 1,33% ke 5.863, Top Losers LQ45: DEWA, HRTA, WIFI, Kamis (15/10)

Perlu diingat, pelemahan rupiah terhadap suatu mata uang tidak otomatis membuat mata uang tersebut menghasilkan keuntungan karena nilai tukarnya juga dapat berfluktuasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×