Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah tak hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga mata uang negara ASEAN. Pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global dan risiko arus keluar modal asing membuat nilai tukar dolar Singapura (SGD) dan ringgit Malaysia (MYR) semakin mahal.
Asal tahu saja, rupiah terhadap dolar AS telah mengalami pelemahan sebesar 7,89% secara YtD per tanggal 23 Oktober 2026, dengan posisi penutupan di level Rp 18.080 per dolar AS
Pun, dibandingkan mata uang negara tetangga, rupiah juga makin tak berdaya. Rupiah telah melemah 9,04% YtD terhadap dolar Singapura. Pada 31 Desember 2025, kurs SGD/IDR berada di level Rp 12.969,44, sedangkan saat ini Jumat (23/10) telah mencapai Rp 14.141,55.
Pelemahan rupiah juga terjadi terhadap ringgit Malaysia. Kurs MYR/IDR naik 7,74% sejak akhir 2025, dari Rp 4.108,38 per ringgit pada 31 Desember 2025, menjadi Rp 4.426,49 saat ini.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Harga Minyak US$ 100 per Barel, Cek Proyeksi Pekan Depan
Presiden Komisaris PT HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, mengamini kondisi tersebut. Ia bilang, sentimen tekanan rupiah dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat, serta sikap investor asing yang lari pasar saham Indonesia.
Selain itu, risiko perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI turut menjadi perhatian investor. MSCI tengah membuka konsultasi terkait kemungkinan menurunkan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Di sisi lain, bank sentral Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS), misalnya, mempercepat penguatan dolar Singapura pada April dan Juli 2026. Lalu pada 14 Oktober, MAS mempertahankan pengaturan kebijakan moneternya untuk meredam tekanan inflasi barang impor.
Sementara itu, ringgit Malaysia memperoleh dukungan dari surplus perdagangan yang melebar dan kinerja ekspor yang kuat. Kondisi tersebut turut menjaga ringgit relatif stabil di kisaran 4,00-4,10 per dolar AS sejak Juli 2026.
“Jadi, rupiah melemah karena masalah dalam dan luar negeri, sementara SGD dan MYR kuat karena fundamentalnya sendiri,” terang Sutopo kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Di tengah pelemahan rupiah, dolar Singapura dan ringgit Malaysia memang dapat menjadi alternatif diversifikasi untuk menjaga nilai aset. Namun, investor domestik perlu memperhitungkan risiko membeli mata uang tersebut ketika penguatannya sudah cukup besar.
Sutopo mengingatkan, apabila persoalan MSCI mereda dan tekanan global berkurang, rupiah berpeluang kembali menguat. Dalam kondisi tersebut, potensi keuntungan dari konversi rupiah ke mata uang asing dapat menyusut.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Masih Tertekan hingga Akhir Oktober
Selain itu, kedua mata uang tersebut bukan instrumen dengan imbal hasil bunga tinggi. Saat ini, BI-Rate berada di level 5,75%, sedangkan suku bunga acuan Malaysia sebesar 2,75%. Suku bunga Malaysia berpotensi naik menjadi 3,00% pada awal 2027.
Dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, Sutopo mengatakan dolar Singapura relatif lebih stabil. Adapun pergerakan yen Jepang dan won Korea Selatan lebih dipengaruhi arah kebijakan bank sentral serta potensi intervensi pasar.
Yen Jepang, misalnya, berpeluang memperoleh dukungan dari kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan intervensi nilai tukar. Sementara itu, won Korea Selatan ditopang kenaikan suku bunga Bank of Korea sebanyak dua kali, masing-masing 25 basis poin, hingga mencapai 3,0%.
“Singkatnya, SGD paling stabil, MYR punya dukungan fundamental, sedangkan yen dan won sangat bergantung pada keputusan bank sentral dan intervensi,” imbuhnya.
Memasuki akhir tahun, Sutopo menyebut tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut.
Sutopo memperkirakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.200 hingga akhir 2026. Jika persoalan MSCI belum terselesaikan, rupiah bahkan berisiko melemah hingga Rp 18.500 pada awal 2027. Sebaliknya, apabila ketidakpastian terkait MSCI mereda, rupiah berpeluang menguat menuju Rp 17.500 per dolar AS.
Kemudian, Sutopo memperkirakan kurs dolar Singapura berada di kisaran Rp 14.000-Rp 14.400 hingga akhir 2026. Adapun ringgit Malaysia diproyeksikan bergerak pada rentang Rp 4.350-Rp 4.550.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia Kian Perkasa, Begini Prospeknya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














