kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Rupiah diproyeksi akan melemah


Minggu, 11 Agustus 2013 / 18:56 WIB
Rupiah diproyeksi akan melemah
ILUSTRASI. Petugas membersihkan lantai di depan layar indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/1/2022). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.


Reporter: Sunarti Agustina | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Pada Jumat (9/8) lalu, rupiah di pasar spot sempat ditutup menguat 0,41% menjadi 10.276 per dolar AS (USD) dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, kurs tengah bank Indonesia (BI), rupiah melemah menjadi 10.288.

Ekonom Bank Central Asia, David Sumual menilai, kondisi rupiah pada Senin (12/8) nanti akan mendapat banyak tekanan dari buruknya data pertumbuhan ekonomi kuartal II. Selain itu, rupiah juga masih tertekan oleh tingginya laju inflasi dan bengkaknya defisit neraca perdagangan dalam negeri.

Dari sisi global turunnya data pengangguran di Amerika baru-baru ini juga turut menopang pergerakan dollar sehingga mampu menguat terhadap rupiah.

Sedangkan menurut Ariston Tjendra, analis Monex Investindo Futures, rupiah juga tertekan oleh kehawatiran pasar terhadap kenaikan tingkat suku bunga dan tingginya inflasi. Itu telah mengurangi minat investor terhadap rupiah.

Ariston memperkirakan, hari ini rupiah kembali tertekan di kisaran Rp 10.200 – Rp 10.400 per dolar AS. Tekanan ini akan dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap makin muramnya prospek pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Tekanan lain juga diakibatkan oleh aksi tunggu pasar terhadap hasil rapat dewan gubernur BI 15 Agustus mendatang.  Sementara itu David memperkirakan, Senin (12/8) akan rupiah tertekan di kisaran Rp 10.220 – Rp 10.290 per dolar AS. " Melemahnya ekspor komoditas dalam negeri dan tingginya impor hingga akhir tahun" ujar David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×