Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan semakin beragam pada semester II-2026. Yen Jepang (JPY), rupiah (IDR) dan won Korea Selatan (KRW) masih berpotensi melemah, sementara yuan China (CNY) dan dolar Singapura (SGD) diproyeksikan tetap relatif kuat dibanding mata uang kawasan lainnya.
Berdasarkan data Trading Economics hingga Jumat (26/6/2026), pasangan USD/JPY berada di level 161, USD/KRW di kisaran 1.538, USD/CNY pada level 6,80, sedangkan USD/SGD berada di sekitar 1,29. Adapun, USD/IDR berada di level 17.922.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono memperkirakan, yen Jepang masih berpotensi menguji level psikologis baru apabila penguatan dolar AS terus berlanjut.
Baca Juga: RUPST Catur Sentosa (CSAP) Putuskan Tebar Dividen Tahun Buku 2025, Cek Besarannya
"USD/JPY berpeluang bergerak pada kisaran 150 hingga 165 sepanjang semester II-2026, kecuali jika Bank of Japan (BoJ) melakukan intervensi besar-besaran yang disertai kenaikan suku bunga secara agresif," ujar Wahyu saat dihubungi Kontan, Jumat (26/6/2026).
Sementara itu, ia memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 17.000 hingga Rp 18.300 per dolar AS pada paruh kedua 2026.
Menurut Wahyu, level Rp18.000 dinilai menjadi area psikologis penting yang akan menentukan respons kebijakan Bank Indonesia apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Won Korea Selatan juga diperkirakan tetap menjadi salah satu mata uang paling volatil di Asia karena tingginya ketergantungan ekonomi Korea Selatan terhadap industri semikonduktor dan saham teknologi global.
Wahyu memperkirakan won Korea Selatan akan berada di rentang 1.400 hingga 1.600 per dolar AS pada semester II-2026.
Berbeda dengan mata uang lainnya, yuan China justru diperkirakan masih memiliki daya tahan yang lebih baik.
Dalam setahun terakhir, penguatan yuan ditopang oleh kuatnya kinerja ekspor China, meningkatnya arus devisa hasil ekspor serta tren diversifikasi global dari dolar AS (de-dollarization).
Baca Juga: IHSG Terperosok 4,55% dalam Sepekan Terakhir, Ini Penyebabnya
Di saat yang sama, People's Bank of China (PBOC) juga aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan kurs tengah harian, sementara repatriasi dana korporasi domestik semakin meningkatkan permintaan terhadap Yuan. Namun, Wahyu memperkirakan PBOC akan mengerem laju apresiasi yuan pada semester II-2026.
"Apresiasi Yuan yang terlalu cepat berisiko mengikis daya saing produk ekspor China di pasar global, sehingga otoritas moneter kemungkinan akan menjaga volatilitas dua arah agar pergerakannya tetap berada di rentang yang terukur," kata Wahyu.
Dengan demikian, Wahyu memproyeksikan yuan akan bergerak di kisaran 6,60 hingga 7,0 per dolar AS pada semester II-2026.
Adapun, dolar Singapura diperkirakan bergerak lebih stabil dibanding mata uang Asia lainnya karena kebijakan moneter Monetary Authority of Singapore (MAS) yang menggunakan nilai tukar sebagai instrumen utama pengendalian inflasi.
Baca Juga: Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Batasi Potensi Kenaikan Harga Emas
Menurut Wahyu, bagi investor ritel pasangan USD/JPY menjadi salah satu instrumen valas global yang paling menarik untuk dipantau pada semester II-2026 karena tingkat volatilitasnya yang sangat tinggi di sekitar area kritis 161-162, area yang merupakan wilayah intervensi BOJ.
Selain itu, dinamika pertarungan antara pelaku pasar komersial (carry trade) dan risiko intervensi mendadak dari otoritas Jepang menciptakan ruang trading taktis yang sangat likuid.
Di dalam negeri, Wahyu menilai investor ritel lokal juga perlu memperhatikan pergerakan USD/IDR. Rupiah yang bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berbasis dolar AS maupun instrumen berimbal hasil tinggi seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai strategi diversifikasi sekaligus lindung nilai di tengah risiko pelemahan rupiah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- ekspor China
- prediksi mata uang asia semester 2 2026
- kurs rupiah dolar AS semester 2
- prediksi USD/IDR
- prediksi USD/JPY
- prediksi USD/KRW
- prediksi USD/CNY
- prediksi USD/SGD
- analisis Wahyu Laksono
- Bank Indonesia intervensi rupiah
- Bank of Japan intervensi yen
- strategi investor valas
- aset berbasis dolar AS
- volatilitas yen Jepang
- volatilitas won Korea Selatan














