Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/9/2026). Pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta harga minyak.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.978 per dolar AS pada Senin (28/9/2026), melemah 0,42% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, dilansir dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 17.965 per dolar AS, melemah 0,27% dibandingkan posisi Jumat (25/9/2026) sebesar Rp 17.917 per dolar AS.
Baca Juga: Penyerapan SBR015 Berpotensi Tembus Rp 25 Triliun, Begini Penjelasannya
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek masih berasal dari faktor eksternal. Data ekonomi AS yang kuat mendorong ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan lebih lama.
“Kenaikan imbal hasil Treasury dan harga minyak juga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” kata Yusuf kepada Kontan, Senin (28/9/2026).
Kenaikan imbal hasil US Treasury membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor. Di saat yang sama, harga minyak yang meningkat turut memberikan tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), pasar akan mencermati sejumlah data dari AS, termasuk data tenaga kerja dan keyakinan konsumen. Pernyataan pejabat The Fed juga menjadi perhatian, bersama dengan keputusan suku bunga Australia yang dapat mempengaruhi sentimen pasar kawasan.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham MEDC, BBCA, dan DSSA untuk Perdagangan Selasa (29/9)
Dari dalam negeri, kebijakan suku bunga BI sudah diperhitungkan oleh pasar. Oleh karena itu, pergerakan rupiah diperkirakan lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika global, kebutuhan nilai asing (valas) korporasi, serta mekanisme pasar.
“Rp18.000 perlu dibaca sebagai tingkat psikologis yang sedang diuji, bukan pertanda pelemahan berkelanjutan,” ujar Yusuf.
Yusuf memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa bergerak dalam kisaran Rp 17.900-Rp 18.050 per dolar AS, dengan area pergerakan utama sekitar Rp 17.950-Rp 18.000 per dolar AS. Penguatan dolar AS atau kenaikan harga minyak dapat mendorong rupiah menguji level Rp 18.000.
Sebaliknya, apabila data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan dapat membuka ruang penguatan rupiah. Dengan demikian, arah rupiah dalam jangka pendek masih akan bergantung pada perkembangan dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan harga minyak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














