Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah diproyeksi melanjutkan pelemahan di perdagangan Selasa (3/12). Potensi kenaikan PMI Manufaktur Amerika Serikat (AS) bakal menambah kekuatan dolar AS.
Mengutip Bloomberg, Senin (2/12), rupiah spot ditutup melemah 0,36% ke level Rp 15.906 per dolar AS dari level akhir pekan lalu sebesar Rp 15.848 per dolar AS.
Sementara itu, rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,30% ke level Rp 15.905 per dolar AS dari level akhir pekan lalu sebesar Rp 15.856 per dolar AS.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mencermati, pelemahan rupiah diakibatkan pernyataan Donald Trump pada akhir pekan lalu. Presiden AS itu mengancam pengenaan tarif bagi anggota BRICS yang berencana menciptakan mata uang baru pengganti dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Lanjut Melemah di Perdagangan Selasa (3/12)
"Pernyataan Trump tersebut mendorong kekhawatiran terkait meningkatnya tensi dagang antara negara-negara berkembang, yang pada akhirnya mendorong pelemahan mata uang di kawasan Asia, termasuk Rupiah," jelas Josua kepada Kontan.co.id, Senin (2/12).
Josua menambahkan, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh data inflasi domestik yang menunjukkan kenaikan menjadi 0,30% MoM pada bulan November 2024, lebih tinggi dari bulan Oktober sebesar 0,08% MoM. Sementara inflasi tahunan tercatat melambat 1,55% yoy dari 1,71%yoy.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, tentunya pelaku pasar juga memantau indikator ekonomi domestik seperti data inflasi. Namun, perdagangan hari ini khususnya lebih dipengaruhi kenaikan indeks dolar yang memulihkan beberapa kerugian dari pekan lalu.
Dolar AS menerima dorongan setelah Presiden terpilih AS Donald Trump mengancam negara-negara anggota BRICS dengan tarif 100%, jika BRICS membuat atau mendukung mata uang baru yang dapat menggantikan dolar.
Selain itu, mata uang paman sam diuntungkan dari kemunduran euro, yang dipengaruhi oleh ketidakpastian politik di Prancis. Dolar juga berbalik menguat (rebound) terhadap Yen Jepang, karena para pedagang tetap terbagi pendapat tentang waktu kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ).
Konflik geopolitik yang sedang berlangsung, khususnya perang Rusia-Ukraina, dan Timur Tengah pun masih terus menciptakan ketidakpastian di pasar global. Situasi konfllik ini mendorong permintaan aset safe haven seperti Dolar AS, sehingga menekan Rupiah.
"Pelemahan rupiah pada Senin (2/12) sebagian besar dipengaruhi oleh Dolar AS yang lebih kuat," ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Senin (2/12).
Sutopo menuturkan, investor selanjutnya akan mencermati rilis data ekonomi utama dari AS, termasuk data pekerjaan, pengangguran, lowongan, pendapatan pekan ini yang akan menjadi panduan bagi The Fed untuk memutuskan suku bunga Desember.
Baca Juga: Ketidakpastian Masih Tinggi, Investor Disarankan Wait and See
Pernyataan apa pun dari pejabat Federal Reserve mengenai kebijakan moneter di masa mendatang dapat memengaruhi sentimen pasar, mengingat pekan ini cukup padat data dan komentar dari bankir akan menjadi perhatian utama bagi investor.
"Komentar yang bernada agresif dapat memperkuat Dolar AS, sementara komentar yang bernada dovish dapat melemahkannya," imbuh Sutopo.
Josua menilai, rupiah besok kemungkinan akan menghadapi tekanan dari potensi peningkatan data PMI Manufaktur AS. Dengan asumsi tersebut, mata uang garuda diperkirakan melemah pada perdagangan Selasa (3/12).
Josua memproyeksi rupiah akan melemah di rentang harga Rp 15.875 – Rp 15.975 per dolar AS pada perdagangan Selasa (3/12).
Sedangkan, Sutopo melihat potensi rupiah cenderung melemah di rentang Rp 15.850 - Rp 15.950 per dolar AS.
Selanjutnya: Heboh Tarif Donald Trump, Apa Itu Tarif dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Menarik Dibaca: Gift Code Ojol The Game 3 Desember 2024 Paling Baru Bulan Ini dari Codexplore
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News