kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Rupiah Bayangi Level Rp 18.000 per Dolar AS, Cek Proyeksi dan Respons Kebijakan BI


Rabu, 30 September 2026 / 17:36 WIB
Rupiah Bayangi Level Rp 18.000 per Dolar AS, Cek Proyeksi dan Respons Kebijakan BI
ILUSTRASI. Rupiah masih dibayangi level Rp 18.000 per dolar AS. Penguatan dolar, yield AS dan harga minyak menjadi tekanan utama.(AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah masih menghadapi tekanan kuat dari faktor eksternal dan kembali membayangi level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi global, hingga lonjakan harga minyak menjadi sejumlah faktor yang menahan ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (30/9/2026) pukul 03.59 EDT, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.894 per dolar AS, menguat 0,48% atau 87 poin.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) menguat 0,67% ke Rp 17.877 per dolar AS dari Rp 17.998 per dolar AS pada hari sebelumnya.

Baca Juga: BI Rate Tetap, Rupiah Menguat ke Rp 17.818 Per Dolar AS Hari Ini (23/9)

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan rupiah dalam jangka pendek masih akan bergerak di kisaran Rp 17.900-Rp 18.100 per dolar AS.

Menurut Yusuf, level Rp 18.000 yang sempat tersentuh lebih mencerminkan fluktuasi di sekitar batas psikologis tersebut, bukan menunjukkan pelemahan rupiah yang tidak terkendali.

"Tekanan terhadap rupiah masih relatif dapat dibatasi," kata Yusuf kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Ia menjelaskan, tekanan utama datang dari global, terutama kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang meningkatkan daya tarik dolar AS. Kondisi tersebut diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah yang meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi.

Di pasar domestik, permintaan dolar AS dari importir menjelang penutupan kuartal juga ikut menambah tekanan terhadap rupiah.

Meski demikian, BI masih memiliki ruang untuk meredam volatilitas melalui intervensi di pasar valuta asing, antara lain melalui transaksi spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

Baca Juga: Kurs Rupiah Berbalik Melemah Jadi Rp 17.916 Per Dolar AS pada Kamis (24/9)

Ruang penguatan rupiah tetap terbuka jika tekanan dari suku bunga AS mulai mereda dan harga minyak mentah kembali melandai. Dalam skenario tersebut, Yusuf melihat rupiah berpeluang bergerak ke kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS.

Dari sisi domestik, Indonesia memiliki sejumlah bantalan untuk menjaga stabilitas rupiah. BI telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin hingga mencapai 5,75% pada September. Selain itu, posisi cadangan devisa berada pada level US$ 146,5 miliar.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 18.100 per dolar AS dalam jangka pendek.

David menilai penguatan indeks dolar AS masih menjadi perhatian karena dipengaruhi ekspektasi kebijakan hawkish bank sentral negara maju. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus ketahanan cadangan devisa, BI telah menyesuaikan instrumen kebijakan di pasar valuta asing. Salah satunya dengan meningkatkan diskon instrumen lindung nilai atau hedging dan mengurangi porsi intervensi di pasar spot.

David juga membuka kemungkinan kenaikan BI-Rate apabila tekanan eksternal berlanjut. Kebijakan tersebut dapat ditempuh untuk merespons kondisi geopolitik serta sikap hawkish bank sentral global dan menjaga stabilitas rupiah.

Baca Juga: BI Rate Ditahan, Rupiah Spot Menguat 0,37% ke Rp 17.818 per Dolar AS pada Rabu (23/9)

Sementara itu, tekanan rupiah juga menjadi perhatian dalam penyusunan APBN 2027. Pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp 17.500 per dolar AS dan harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar US$ 75 per barel.

Asumsi kurs tersebut relatif lebih optimistis dibandingkan dinamika rupiah di pasar saat ini. Meski begitu, selisih antara asumsi APBN dan kondisi pasar dinilai masih dapat dikelola pemerintah melalui efisiensi dan penyesuaian belanja serta strategi pembiayaan pada pertengahan tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×