kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Rupee Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Masa, Ini Biang Keroknya


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 07:46 WIB
Rupee Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Masa, Ini Biang Keroknya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupee India tersungkur ke level terendah sepanjang masa pada hari Jumat (29/8/2025). REUTERS/Thomas White


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupee India tersungkur ke level terendah sepanjang masa pada hari Jumat (29/8/2025). 

Data Reuters menunjukkan, rupee menembus level 88 per dolar untuk pertama kalinya di tengah kekhawatiran bahwa tarif AS yang bersifat menghukum dapat menghambat pertumbuhan dan semakin menekan arus portofolio.

Washington memberlakukan tarif tambahan sebesar 25% untuk barang-barang India minggu ini, menggandakan total bea yang dihadapi negara Asia Selatan tersebut menjadi 50%.

Nilai tukar rupee ditutup pada level 88,1950 per dolar AS, melemah 0,65% pada hari itu. Ini menandai penurunan satu hari terbesarnya dalam hampir tiga bulan. 

Mata uang tersebut mencapai level terendah sepanjang masa di 88,3075 selama sesi tersebut, yang kemungkinan memicu intervensi dari Bank Sentral India.

Nilai tukar rupee melemah 0,68% pada bulan Agustus, sebagian besar disebabkan oleh penurunan pada hari Jumat kemarin. Dengan demikian, pelemahan rupee sudah berlangsung selama empat bulan.

"Tarif AS kemungkinan akan memperpanjang tekanan neraca pembayaran India, melemahkan arus keuangan, dan memperlebar defisit perdagangan," ujar Dhiraj Nim, ahli strategi valuta asing di ANZ Bank.

Baca Juga: Kebutuhan Besar, India Masih Butuh CPO Indonesia

Dia menambahkan, "Pandangan saya tetap bearish terhadap rupee, dengan nilai tukar dolar/rupee kemungkinan akan menguat lebih lanjut meskipun dolar secara umum melemah."

Menurut para ekonom, tarif AS kemungkinan akan memangkas 60-80 basis poin dari pertumbuhan PDB India jika tetap berlaku selama satu tahun, yang berpotensi menambah tekanan pada ekonomi yang sudah melambat.

Bank sentral India saat ini memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 6,5% pada tahun fiskal berjalan yang berakhir pada 31 Maret.

Ekspor India ke AS menyumbang 2,2% dari PDB. Akan tetapi, para ekonom menilai, perlambatan tajam dalam industri padat karya seperti tekstil dan perhiasan dapat menyebabkan hilangnya lapangan kerja dan memperburuk dampak ekonomi.

Tarif tersebut dapat memperlebar defisit perdagangan India di saat arus portofolio asing melemah, sehingga memperburuk neraca pembayaran negara tersebut.

Investor portofolio asing telah menjual obligasi dan ekuitas India senilai US$ 9,7 miliar sepanjang tahun ini. Mereka telah menarik lebih dari US$ 1 miliar dari ekuitas India selama dua sesi perdagangan setelah pengumuman tarif tambahan AS.

Pekan ini, ekuitas India mencatat penurunan tertajam sejak Maret.

Tonton: China Borong Emas Hitam Rusia Usai India Kurangi Pembelian

Penurunan rupee minggu ini—termasuk rekor terendah baru terhadap yuan pada hari Jumat—dapat sedikit meredam dampak tarif AS yang lebih tinggi.

Nilai rupee melemah terhadap dolar meskipun dolar secara umum melemah.

"Ini bukan hal yang buruk karena nilai tukar riil efektif tertimbang perdagangan sekarang berada di level terendah dalam 2 tahun dan akan membantu meningkatkan daya saing," kata analis di J.P. Morgan dalam sebuah catatan.

Selanjutnya: Dorong DEFA Jadi Flagship Keketuaan Indonesia Segera Selesai

Menarik Dibaca: Simak Cara Membangun Keuntungan dari Bekerja Freelance di 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×