Reporter: Vatrischa Putri Nur, Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin (26/1/2026), dengan menembus level US$ 5.100 per ons. Lonjakan harga logam mulia ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven).
Kenaikan harga emas dunia turut menyulut lonjakan saham emiten berbasis emas di Bursa Efek Indonesia. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melesat 10,96% ke level Rp 4.760 pada perdagangan Senin (26/1/2026).
Secara historis, reli saham emiten emas ini telah berlangsung sejak tahun lalu. Dalam periode satu tahun terakhir, saham ANTM tercatat melonjak hingga 241,22%. Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 118,35% dalam periode yang sama.
Baca Juga: Saham Blue Chip Februari 2026 Berubah, BREN Gantikan ACES di LQ45
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Nico Omer Jonckheere menilai penguatan harga emas dunia dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, salah satunya terkait arah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun demikian, Nico mengingatkan bahwa kenaikan harga saham berbasis emas berpotensi diikuti aksi ambil untung (profit taking), terutama jika harga telah melampaui valuasi yang wajar dan membutuhkan evaluasi ulang.
“Dengan kenaikan harga saham berbasis emas, aksi profit taking berpeluang terjadi, apalagi ketika sudah melewati batas valuasi yang wajar sebab harus ada re-evaluasi ulang,” ujar Nico.
Senada, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai secara relatif valuasi saham emiten emas saat ini sudah berada di level yang cukup tinggi, sehingga ruang kenaikan ke depan menjadi lebih terbatas.
“Risk and reward saham emas saat ini sudah tidak begitu menarik sehingga kami merekomendasikan hold bagi investor yang sudah mengakumulasi di harga yang lebih rendah,” jelas Miftahul.
Tonton: Terus Bertambah, 2.277 WNI di Kamboja Minta Dipulangkan ke Indonesia
Rekomendasi Saham
Dari sejumlah emiten emas, Miftahul merekomendasikan saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dengan status hold dan target harga di level Rp 2.800 per saham.
Sementara itu, Nico masih menyukai saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebagai pilihan saham berbasis emas di Bursa Efek Indonesia.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, prospek saham emiten emas sepanjang tahun ini masih terbuka lebar, seiring tren kenaikan harga emas global yang berpotensi menopang kinerja keuangan emiten.
“Selama harga emas bertahan tinggi, emiten emas masih punya potensi karena kenaikan harga jual emas akan langsung mendorong pendapatan dan laba bersih,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
“Saham yang masih laggard justru memberi ruang penguatan lebih besar untuk catch-up,” jelasnya.
“Sebaiknya hindari FOMO membeli saat harga sudah tinggi. Strategi yang lebih aman adalah buy on weakness ketika terjadi koreksi yang wajar,” kata Wafi. Ia juga menekankan pentingnya memilih emiten dengan cadangan emas yang besar atau margin yang relatif stabil.
Untuk rekomendasi, Wafi menilai beberapa saham emiten emas masih menarik dikoleksi dengan target harga tertentu. Ia merekomendasikan buy saham MDKA dengan target harga Rp 4.250 per saham, ANTM dengan target di level Rp 5.200, HRTA di Rp 2.800, serta PSAB dengan target Rp 760 per saham.
Selanjutnya: Pramono Anung: Hotel Pullman, GI, dan Plaza Indonesia Dibuat Terowongan ke MRT
Menarik Dibaca: Penting! Konsumsi Rutin 6 Makanan Ini Demi Payudara Lebih Sehat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













