Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi pemerintah mengalami tekanan sepanjang kuartal I - 2026. Prospek obligasi pemerintah ke depan diproyeksi akan bergantung pada sejumlah faktor seperti rupiah hingga sentimen risiko global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, prospek obligasi pemerintah di tengah eskalasi Timur Tengah masih menarik, tetapi jalurnya tidak mulus. Tekanan utamanya datang dari kenaikan harga minyak, naiknya premi risiko global, dan arus keluar dana asing yang mendorong imbal hasil naik.
Sepanjang kuartal I-2026 indeks obligasi gabungan Indonesia terkoreksi 3,87% secara year to date (ytd). Sementara yield SUN 10 tahun terkoreksi 84 bps secara ytd, disertai arus keluar investor nonresiden di pasar SBN sebesar US$ 1,48 miliar.
Baca Juga: Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama
Namun pasar obligasi domestik belum kehilangan daya tahan dimana pasar primer masih berfungsi dengan rata-rata incoming bid 2026 sebesar Rp 71,59 triliun per lelang dan awarded bid Rp 38,30 triliun.
Sedangkan di pasar sekunder yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 6,59% pada 14 April dan 6,58% pada 16 April.
"Jadi, prospeknya bukan jelek, tetapi sangat bergantung pada arah konflik, harga minyak, rupiah, dan sentimen risiko global," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).
Josua juga melihat bahwa investor memang cenderung mencari instrumen yang lebih aman sambil menunggu momentum yang lebih jelas. Itu terlihat dari pola risk off yang berulang setiap kali ada ancaman eskalasi di Hormuz, lalu mereda sementara saat muncul harapan perundingan damai.
Konflik ini memperketat kondisi keuangan kawasan, mendorong pelemahan mata uang, kenaikan yield, dan membuat arus portofolio berbalik negatif.
Di saat yang sama, investor asing cenderung fokus pada aset berkualitas di tengah sentimen yang masih sangat peka terhadap aliran berita.
Baca Juga: OJK, BEI & KSEI Tuntaskan Empat Tahap Penguatan Transparansi Likuditas Pasar Modal
Menariknya, struktur investor asing di SBN Indonesia masih didominasi investor jangka panjang, dan porsi kepemilikan asing di tenor menengah-panjang tetap besar, sehingga pasar belum berubah menjadi kepanikan total. Artinya, investor belum lari dari obligasi, tetapi mereka makin selektif pada kualitas, tenor, dan timing masuk.
"Dalam kondisi seperti ini, strategi yang menurut saya paling masuk akal untuk mengoptimalkan return obligasi adalah disiplin pada kualitas dan bertahap dalam pengambilan posisi," jelas Josua.
Adapun, untuk investor yang konservatif, tenor pendek sampai menengah lebih aman karena gejolak harganya lebih kecil. Data beta obligasi menunjukkan seri tenor sangat pendek seperti FR0037 memiliki beta 0,1059 dan FR0042 memiliki beta 0,3492, jauh lebih rendah dibanding beberapa seri tenor panjang seperti FR0045 yang betanya 0,9738.
Ini berarti obligasi tenor panjang memang memberi potensi capital gain lebih besar bila yield turun, tetapi juga lebih rentan terkoreksi saat sentimen global memburuk.
"Jadi, dalam situasi sekarang saya melihat strategi yang lebih sehat adalah pembelian bertahap, jangan menumpuk di satu tenor tertentu, fokus pada SBN likuid sebagai tulang punggung portofolio, lalu baru menambah durasi lebih panjang saat yield melonjak karena sentimen dan bukan karena perubahan fundamental yang permanen," terang Josua.
Baca Juga: Modal Ekspansi, MNC Digital (MSIN) Andalkan Dana Hasil Listing di Luar Negeri
Sementara untuk obligasi korporasi, Josua cenderung menyarankan tetap selektif dan memprioritaskan penerbit dengan kualitas fundamental dan likuiditas yang kuat.
"Untuk proyeksi yield SBN 10 tahun pada semester I 2026, saya cenderung melihat kisaran dasarnya di sekitar 6,5% sampai 6,9%, dengan risiko condong ke atas jika konflik memburuk lagi," tutur Josua.
Dasarnya, per 14–16 April yield 10 tahun ada di sekitar 6,58% sampai 6,59%, sedangkan sepanjang Maret rata-ratanya 6,77% dengan rentang 6,46-6,93%.
Bila harga minyak rata-rata berada di sekitar US$ 75 dolar per barel dan nilai tukar rupiah sekitar Rp 16.750 per dolar Amerika Serikat, yield SBN 10 tahun bisa berada di sekitar 6,51%.
Akan tetapi bila minyak naik ke US$ 80 dolar per barel dan nilai tukar rupiah mendekati Rp 17.000, yield 10 tahun berpotensi naik ke sekitar 6,84% - 6,99%. Bahkan jika eskalasi membesar dan minyak bergerak ke US$ 90 dolar per barel, yield bisa terdorong ke atas level 7%.
Karena itu, untuk semester I - 2026 Josua belum melihat ruang penurunan yield yang besar dan konsisten.
Josua menilai ada peluang turun bila ada deeskalasi yang meyakinkan, tetapi batas bawahnya relatif sempit karena Bank Indonesia sendiri sudah makin berorientasi pada stabilitas dan ruang penurunan suku bunga makin terbatas.
"Jadi, menurut saya semester I 2026 tetap akan menjadi periode trading range yang lebar, bukan fase rally obligasi yang lurus ke bawah," pungkas Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













