Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pertambangan batubara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus merealisasikan berbagai rencana proyek strategis. Salah satunya adalah proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8 yang progres pembangunannya sudah mencapai 91,03% per akhir September 2021.
"Pembangkit listrik ini diharapkan bisa beroperasi penuh secara komersial pada kuartal pertama 2022," kata Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (25/10).
Menurut Suryo, PLTU ini memiliki kapasitas 2x620 megawatt (MW) dengan nilai investasi sebesar US$ 1,68 miliar. PLTU ini merupakan bagian dari proyek penyediaan listrik 35.000 megawatt (MW) yang dicanangkan pemerintah.
Baca Juga: Panin Sekuritas memandang positif kinerja Bukit Asam (PTBA) pada akhir 2021
PLTU ini digarap oleh perusahaan konsorsium antara Bukit Asam dan perusahaan China, Huadian Hongkong Company Ltd yang bernama PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP). Kalau sudah beroperasi komersial nanti, PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 diperkirakan bisa menyerap hasil produksi batubara PTBA sekitar 5,4 juta ton per tahun.
Di samping itu, PTBA juga masih berencana mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lahan bekas tambangnya yang sudah dibebaskan. PLTS tersebut rencananya akan dibangun di Ombilin (Sumatra Barat), Tanjung Enim (Sumatra Selatan), dan Bantuas (Kalimantan Timur).
Baca Juga: Laba Bukit Asam (PTBA) melonjak 176% per kuartal ketiga 2021, berikut pendorongnya
Nantinya kapasitas yang ditargetkan terpasang untuk proyek ini mencapai 200 MW untuk masing-masing pembangkit. "Saat ini, proyek PLTS masih dalam tahap pembahasan dengan PT PLN untuk bisa menjadi independent power producer," ucap Suryo.
Sebagai persiapan untuk masuk ke bisnis PLTS dalam skala besar, PTBA sudah melakukan commercial operation date (COD) PLTS di Bandara Soekarno Hatta yang sudah beroperasi penuh pada 1 Oktober 2020. Di samping itu, PTBA juga telah mengoperasikan PLTS untuk kegiatan corporate social responsibility (CSR) untuk memenuhi kebutuhan listrik para petani di Lampung, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan.
Baca Juga: Kinerja PTBA membaik akibat kenaikan harga batubara, simak rekomendasi sahamnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













