Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemangkasan produksi batubara dan nikel secara nasional pada 2026 berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten jasa pertambangan.
Dalam berita sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM berencana mengurangi target produksi batubara nasional pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Tak hanya itu, target produksi bijih nikel nasional pada tahun ini juga dikurangi menjadi sekitar 250 juta ton.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, kebijakan tersebut sebenarnya akan memberikan dampak yang tidak bersifat linear dan tidak sepenuhnya negatif bagi emiten jasa pertambangan.
Pada komoditas batubara misalnya, penurunan target produksi dari sekitar 790 juta ton menjadi sekitar 600 juta ton berpotensi mengikis volume overburden removal (OR) dan pengambilan batubara (coal getting), terutama bagi kontraktor yang sangat bergantung pada tambang berbiaya tinggi atau tambang marginal.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Bergerak Konsolidasi pada Rabu (14/1), Simak Rekomendasi Sahamnya
Namun, perlu diingat bahwa kebijakan ini ditujukan untuk menopang harga batubara. Dengan harga yang lebih sehat, sebagian produsen batubara berbiaya rendah tetap akan beroperasi optimal, sehingga pihak kontraktor jasa pertambangan utama masih memiliki basis volume yang relatif terjaga.
Situasi berbeda terjadi pada komoditas nikel. Kebijakan pembatasan produksi justru terjadi di tengah defisit struktural pasokan bijih nikel terhadap kebutuhan smelter.
"Alhasil, aktivitas penambangan di tambang-tambang terintegrasi ke smelter tetap tinggi, bahkan cenderung prioritas," kata dia, Selasa (13/1/2026).
Di samping itu, pemangkasan produksi berpotensi menunda ekspansi terhadap investasi alat berat ataupun pemeliharaan, bukan menghentikan operasional. Emiten jasa pertambangan kemungkinan akan lebih selektif dalam belanja modal, mengutamakan peremajaan alat, efisiensi fleet, dan optimalisasi utilisasi dibanding pembelian unit baru.
Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, emiten jasa pertambangan seperti PT Petrosea Tbk (PTRO) justru tetap agresif dalam mengalokasikan modal besar untuk pengadaan armada baru guna mendukung proyek baru.
Adapun fokus pemeliharaan tetap menjadi prioritas utama untuk menjaga reliabilitas operasional di tengah keterbatasan kuota produksi.
Menurut Abida, langkah antisipasi utama yang dapat dilakukan emiten jasa pertambangan adalah mendiversifikasi portofolio bisnis ke komoditas mineral lain seperti emas dan tembaga guna mengurangi ketergantungan pada batubara.
Peninjauan kembali kontrak dengan pelanggan juga menjadi langkah yang lazim dan diperlukan untuk menyesuaikan target volume kerja, memastikan jaminan volume minimum, serta fleksibilitas tarif jasa.
"Dialog intensif antara kontraktor dan pemilik tambang dalam masa transisi ini sangat krusial untuk menjaga efisiensi ritase armada dan mengoptimalkan kapasitas pengiriman yang tersedia," ungkap dia, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat 0,72% ke 8.948 pada Selasa (13/1), MBMA, PGEO, MDKA Top Gainers LQ45
Terlepas dari itu, peluang pertumbuhan kinerja pada 2026 tetap terbuka lebar, terutama bagi emiten jasa pertambangan yang memiliki eksposur ke tambang berbiaya rendah, tambang captive smelter, serta kontrak jangka panjang.
Di sektor nikel, risiko kekurangan bijih justru membuat tambang yang masih memiliki Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan cadangan berkualitas menjadi sangat strategis, sehingga aktivitas jasa tambangnya relatif lebih defensif.
"Emiten yang mampu menawarkan jasa terintegrasi, mulai dari mining, hauling, hingga infrastruktur pendukung, berpeluang menjaga margin meski volume nasional dikendalikan," terang Imam.
Sementara itu, Abida menyebut, peluang pertumbuhan kinerja akan terbuka bagi emiten jasa pertambangan yang mampu melakukan transformasi bisnis, terutama melalui peralihan menuju eksekusi operasional secara in-house dan penguatan sinergi di dalam ekosistem grup.
Emiten yang berpeluang unggul adalah mereka yang memiliki kontrak jangka panjang atau seumur tambang (life of mine) dengan pelanggan berkualitas serta mampu meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi alat berat berbasis listrik atau hybrid.
Lantas, sektor jasa pertambangan dipandang masih sangat layak dipertimbangkan oleh investor lantaran valuasinya menarik dan didukung oleh prospek pemulihan harga komoditas jangka panjang seiring pengetatan produksi di dalam negeri.
Abida merekomendasikan beli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan target harga mencapai Rp 32.000 per saham berkat profil defensif dan dividend yield yang kuat sekitar 8,3%.
Selanjutnya: PBB: Ratusan Orang Tewas dalam Aksi Protes di Iran
Menarik Dibaca: 4 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Lama selain Telur, Cocok untuk Diet!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












