kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Portofolio saham milik Asabri berkinerja jeblok, ini kata analis


Senin, 13 Januari 2020 / 21:12 WIB
Portofolio saham milik Asabri berkinerja jeblok, ini kata analis
ILUSTRASI. Kantor dan pelayanan PT ASABRI (Persero) di Jakarta. Setidaknya, ada 13 saham yang masuk portofolio investasi PT Asabri yang didominasi saham lapis ketiga.

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setidaknya, ada 13 saham yang masuk portofolio investasi PT Asabri (Persero). Ke-13 saham yang didominasi saham lapis ketiga tersebut memiliki kinerja yang jeblok sepanjang 2019, bahkan ada yang return-nya minus 95%.

Salah satunya saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE). Asabri mengempit kepemilikan saham FIRE sebanyak 15,57%. Sepanjang 2019, saham FIRE anjlok 95,8%, dan menjadi saham milik Asabri dengan kinerja paling jeblok.

Saham PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) dan saham PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) yang juga dikoleksi Asabri memberikan return 0% sepanjang 2019. Kini, harga kedua saham tersebut betah bertengger di posisi Rp 50 per saham.

Baca Juga: Mahfud Md bakal laporkan Asabri, ini kata Kejagung

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, anjloknya kinerja saham-saham ini salah satunya diakibatkan oleh buruknya aspek fundamental.

“Kinerja emiten-emiten tersebut belum bisa dijadikan alasan untuk adanya apresiasi harga,” ujar Aria kepada Kontan.co.id, Senin (13/1).

Misalkan saja PT PP Property Tbk (PPRO). Laba emiten konstruksi ini tergerus 31% menjadi Rp 210,5 miliar pada kuartal III-2019. Pun begitu dengan kinerja PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) yang masih mencatatkan rugi bersih senilai Rp 34,69 miliar.

Di sisi lain, analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas tidak menampik bahwa saham-saham lapis ketiga (third liner) lebih mudah untuk ‘dimainkan’ dibanding saham lapis pertama maupun kedua.

“Saham-saham lapis ketiga paling rentan karena untuk menggerakkannya lebih mudah,” terang Sukarno kepada Kontan.co.id, Senin (13/1).

Sukarno melanjutkan, biasanya saham-saham seperti itu rentan dikuasai oleh bandar yang bertugas untuk menaikkan harga. Ketika target harga dari bandar telah tercapai, maka harga saham tersebut akan dijatuhkan.

Baca Juga: Rombak direksi Asabri, Kementerian BUMN akan konsultasi ke Prabowo

Kemungkinan lain ketika terjadi panic selling, sang bandar sengaja tidak menahan harga saham yang bersangkutan hingga akhirnya harga saham tersebut akan jatuh dalam.




TERBARU

Close [X]
×