kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Permintaan naik batubara diprediksi memanas


Senin, 17 Juli 2017 / 20:05 WIB


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Proyek listrik 35.000 megawatt (MW) milik pemerintah guna mengejar rasio elektrifikasi nasional 100% pada tahun 2019 menjadi suntikan perusahaan tambang batubara. Pasalnya materi pembangkit tenaga listrik populer di Indonesia tetap bergantung pada batubara.

"Kalau untuk kebutuhan batubara dan pembangkit listrik tenaga uap akan terus meningkat. Di Indonesia kita masih fokus karena ada kebutuhan listrik yang masih besar," kata Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim saat dihubungi KONTAN, Senin (17/7).

Menurut catatan KONTAN, di 2016 silam, permintaan batubara global turun 1,7% jika dibandingkan dengan rata-rata tahun 2005-2015 yang naik 1,9%. Penurunan penggunaan batubara terjadi hampir di setiap benua, kecuali Afrika.

Ibrahim memperhatikan tindakan PLN yang mengakuisisi perusahaan tambang berupaya agar menghindari permainan harga batubara. "Saat PLN akan melakukan akuisisi perusahanaan tambang, artinya Indonesia serius akan menggunakan batubara sebagai pembangkit listirk," kata Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menambahkan, kebijakan pemerintah Donald Trump yang akan meningkatkan jumlah pembangkit listrik dapat menjadi kesempatan besar untuk negara eksportir batubara, di antaranya Indonesia. Semenjak keluar dari Paris Treaty yang menegaskan komitmen negara-negara anggota untuk mengurangi emisi polutan, AS membuka kesempatan ekspor batubara besar-besaran.

Tak hanya itu, batubara sebagai materi pendingin reaktor nuklir masih menjadi pilihan populer. Menurut organisasi World Nuclear, batubara diproyeksikan bakal menjadi bagian terbesar dari campuran pembangkit listrik sampai tahun 2035. "Semua negara yang memiliki reaktor nuklir akan membutuhkan PLTU batubara karena lebih dingin," jelas Ibrahim.

Ibrahim memprediksi kisaran harga batubara untuk besok (18/7) berada di angka US$ 81,10 per ton-US$ 82,60 per ton. Sedangkan untuk pekan ini harga batubara di prediksi di rentang harga US$ 80,50 per ton- US$ 83,70 per ton. Hari ini harga batubara di ICE Futures untuk pengiriman Agustus 2017 berada di level US$ 83,35 per ton.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×