kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Perlu tambahan aturan buat tampung dana repatriasi


Senin, 02 Mei 2016 / 20:41 WIB


Reporter: Wahyu Satriani | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Niat Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengusulkan repatriasi dana pengampunan pajak atau tax amnesty ditempatkan pada reksadana membutuhkan aturan tambahan.

Pasalnya, beleid otoritas jasa keuangan (OJK) saat ini memperbolehkan investor reksadana konvensional melepas kepemilikannya (redemption) setiap saat. "Kecuali reksadana terproteksi yang bisa melakukan locked up," ujar Direktur Infovesta Utama Parto Kawito, Senin (2/5).

Parto mengatakan pasar reksadana terancam mengalami volatilitas apabila dana repatriasi tidak dikunci. "Akibatnya investor tax amnesty akan rugi sehingga enggan mengikuti tax amnesty pada waktu berikutnya," tutur Parto.

Tak hanya itu, redemption secara mendadak serta dalam jumlah besar juga akan berdampak terhadap turunnya return reksadana.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya mengusulkan dana repatriasi dalam reksadana dikunci atau locked up hingga lima tahun.

Parto melanjutkan perlu adanya reksadana khusus guna menampung dana repatriasi. Produk tersebut berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) yang menerapkan redemption fee besar pada satu tahun pertama.

Selain itu juga perlu diatur agar redemption hanya dapat dilakukan secara langsung melalui manajer investasi. "Apabila tidak dibuatkan reksadana khusus, akan terjadi diskriminasi dengan investor lain," ujar Parto. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×