kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Peringkat Agung Podomoro Land (APLN) dipangkas, begini kata analis


Kamis, 18 Juli 2019 / 19:35 WIB

Peringkat Agung Podomoro Land (APLN) dipangkas, begini kata analis

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings dan Moody's Investors Service pada pekan ini menurunkan rating perusahaan properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Senin (15/7) lalu, Moody's menurunkan peringkat APLN dari B2 menjadi B1. Sedangkan Fitch memangkas peringkat jangka panjang Agung Podomoro dan obligasi jangka panjang yang akan jatuh tempo pada 2024 mendatang menjadi CCC- dari sebelumnya B-.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, debt to equity ratio (DER) APLN memang cukup tinggi. Menurut dia, rasio utang emiten bisa dikatakan aman apabila DER berada di bawah satu kali. “Yang terjadi sekarang, DER dari APLN ada di angka 1,39 kali,” kata Sukarno, Kamis (18/7).


Sepanjang triwulan pertama 2019, APLN mencatat penurunan pendapatan yang cukup dalam secara year on year (yoy). Tiga bulan pertama APLN dilalui dengan catatan pendapatan sebesar Rp 754,03 miliar. Sedangkan kuartal I tahun lalu, APLN masih bisa mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,36 triliun. Itu berarti, APLN mengalami penurunan pendapatan sebesar 45%.

Sebelumnya, Moody's dan Fitch menurunkan peringkat senior notes tanpa jaminan yang dirilis oleh APL Realty Holdings Pte. Ltd. Notes tersebut dirilis oleh APLN bersama dengan anak perusahaan dan memiliki jatuh tempo pada taun 2024.

Penurunan peringkat oleh Moody's tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Utamanya, Moody's melihat potensi ketidakpastian Agung Podomoro Land untuk membayar kembali utangnya.

Moody's menggarisbawahi utang APLN yang akan jatuh tempo selama 12 bulan ke depan. Moody's mencatat APLN memperoleh fasilitas pinjaman berjangka pada bulan Mei 2019 untuk mengatasi jatuh tempo pinjaman obligasi Rp 1,3 triliun selama 12 bulan ke depan. APLN disebut telah menggunakan sebagian fasilitas pinjaman untuk membiayai kembali pinjaman obligasi senilai Rp750 miliar yang jatuh tempo pada 6 Juni 2019.

Namun, Moody's meragukan ketersediaan dana APLN untuk membiayai kembali obligasi senilai Rp 550 miliar. APLN harus melunasi obligasi senilai Rp 491 miliar yang jatuh tempo pada Desember 2019 dan Rp 99 miliar yang jatuh tempo pada bulan Maret 2020.

Sama seperti Moody's, penurunan peringkat Fitch oleh APLN juga disebabkan karena keraguan atas kemampuan perusahaan untuk membayar utang. Hal ini juga menyusul tertundanya rencana refinancing obligasi jangka pendek dan pinjaman senilai Rp 1,17 triliun.

Perusahaan properti ini hanya mampu mengumpulkan dana Rp 750 miliar dari pinjaman baru untuk membayar obligasi dalam negeri yang jatuh tempo 6 Juni 2019. Penggalangan dana parsial telah mempercepat jatuh tempo pinjaman sindikasi senilai lebih dari Rp 1 triliun itu dari tanggal jatuh tempo aslinya, yakni 5 Juni 2020.

Sampai saat ini, Agung Podomoro belum berhasil mendapatkan pendanaan yang memadai untuk mengatasi jatuh tempo pinjaman sindikasi dan obligasi domestik senilai Rp 550 miliar yang akan jatuh tempo pada bulan Desember 2019 dan Januari 2020 mendatang.

Ketidakmampuan Agung Podomoro untuk mendapatkan pendanaan yang cukup telah meningkatkan risiko refinancing dan likuiditas jangka pendek perusahaan. Menurut Fitch, risiko ini makin diperparah oleh profil keuangan APLN yang lemah. "Kami memprediksi perusahaan akan terus memiliki arus kas negatif dari operasi (CFFO), dalam 12-24 bulan ke depan," ujar analis Fitch, Kamis (18/7).

Lantas bagaimana prospek saham APLN?

Sukarno mengatakan, investor bisa memanfaatkan momentum penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia pada hari ini. Meski begitu ia juga memberi catatan, bahwa hal itu hanya berlaku untuk trading jangka pendek. “Pun jangka menengah masih bisa,” kata Sukarno.

Menurutnya ketika secara teknikal sudah bisa berada dalam range harga buy, wajar apabila saham APLN akan mengalami kenaikan. Hari ini, harga saham APLN ditutup stagnan pada level Rp 222. Sukarno menetapkan target harga yang ia rasa bisa dimanfaatkan oleh investor. “Bisa tunggu di range Rp 268-Rp 272,” tutup Sukarno.


Reporter: Aloysius Brama
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0022 || diagnostic_web = 0.1438

Close [X]
×