kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.783   18,00   0,10%
  • IDX 6.596   -4,17   -0,06%
  • KOMPAS100 859   -4,53   -0,52%
  • LQ45 652   -2,54   -0,39%
  • ISSI 229   -0,27   -0,12%
  • IDX30 365   -1,19   -0,33%
  • IDXHIDIV20 451   -1,09   -0,24%
  • IDX80 98   -0,50   -0,51%
  • IDXV30 124   -1,26   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,24   -0,20%

Penjualan Alat Berat Diproyeksi Masih Tumbuh, Begini Prospek UNTR, KOBX dan INTA


Rabu, 02 September 2026 / 17:03 WIB
Penjualan Alat Berat Diproyeksi Masih Tumbuh, Begini Prospek UNTR, KOBX dan INTA
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham untuk emiten alat berat di tengah proyeksi kenaikan penjualan alat berat (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar alat berat Indonesia hingga akhir 2026 diperkirakan masih tumbuh, meski mulai menghadapi tekanan dari sektor pertambangan. Pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat sejumlah perusahaan tambang menahan ekspansi dan menunda pembelian unit baru.

Berdasarkan catatan Kontan, Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Yushi Sandidarma sebelumnya mengatakan, pasar alat berat nasional masih tumbuh sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, dampak pemangkasan RKAB mulai terlihat dari keputusan pembelian perusahaan tambang.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, prospek penjualan alat berat hingga akhir tahun cenderung moderat dan konsolidatif. Tekanan terutama berasal dari penyesuaian kuota RKAB serta kenaikan biaya operasional akibat harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi menekan aktivitas kontraktor tambang.

"Prospek penjualan hingga akhir tahun diperkirakan cenderung moderat dan konsolidatif," ujar David kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Menguat

Menurut David, kondisi tersebut membuat efisiensi operasional dan diversifikasi sektor menjadi faktor penting bagi emiten alat berat. Perbedaan eksposur bisnis turut menjelaskan perbedaan kinerja penjualan antar emiten di sektor ini.

Penjualan unit alat berat PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) pada kuartal II-2026 tumbuh 47% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sebaliknya, penjualan PT Intraco Penta Tbk (INTA) pada kuartal II-2026 turun 11% YoY.

Sementara itu, pada semester I-2026, penjualan barang PT United Tractors Tbk (UNTR) turun menjadi Rp28,13 triliun dari Rp38,98 triliun atau turun 27,83% YoY.

David mengatakan, KOBX relatif mampu menjaga pertumbuhan karena agresif melakukan ekspansi ke sektor nonbatubara, seperti nikel, quarry, konstruksi dan logistik. Selain itu, permintaan alat berat berukuran kecil hingga menengah dinilai lebih fleksibel dibandingkan alat berat berkapasitas besar untuk pertambangan.

"Perbedaan performa ini berakar pada diversifikasi portofolio produk dan karakteristik basis konsumen," jelasnya.

Sebaliknya, UNTR dan INTA memiliki eksposur lebih besar terhadap alat berat heavy-duty untuk kegiatan pertambangan skala besar. Kondisi tersebut membuat keduanya lebih sensitif terhadap penyesuaian RKAB dan kebijakan efisiensi belanja modal perusahaan tambang.

Di tengah tekanan sektor tambang, David melihat sektor nonpertambangan dapat menjadi penyangga permintaan alat berat. Infrastruktur, agribisnis kelapa sawit, kehutanan, manufaktur hingga logistik berpotensi memberikan kontribusi sekitar 25%-35% terhadap total volume penjualan alat berat nasional.

"Peran sektor non-tambang sangat vital sebagai pengimbang dan berpotensi menopang 25% hingga 35% dari total volume penjualan alat berat nasional," katanya.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.763 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Konflik AS-Iran

David masih membuka peluang pemulihan sebagian pada paruh kedua 2026. Sejumlah katalis yang perlu diperhatikan antara lain percepatan belanja infrastruktur pemerintah, stabilisasi harga komoditas global, kejelasan alokasi RKAB, musim panen perkebunan serta perkembangan proyek mineral hijau seperti nikel dan tembaga.

Dari sisi investasi, David menilai UNTR masih menjadi pilihan untuk investor yang mencari saham inti dan defensif. Emiten ini memiliki fundamental yang kuat, likuiditas tinggi serta bisnis yang terdiversifikasi, mulai dari pertambangan emas, kontraktor tambang hingga energi hijau.

Sementara itu, KOBX dinilai lebih cocok untuk strategi pertumbuhan dan taktis. Diversifikasi ke sektor nonbatubara memberikan ruang bagi pertumbuhan volume penjualan dalam jangka pendek hingga menengah.

Adapun INTA dinilai memiliki cerita turnaround, tetapi investor perlu lebih berhati-hati hingga perbaikan efisiensi operasional dan kondisi keuangan terlihat konsisten.

Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta dalam risetnya menunjukkan adanya perbaikan aktivitas operasional UNTR pada Juli 2026. Produksi batubara PAMA mencapai 13 juta ton, naik 10% secara bulanan meski masih turun 7% YoY.

Penjualan alat berat Komatsu UNTR juga mencapai 399 unit pada Juli 2026, meningkat 31% secara bulanan. Perbaikan produksi PAMA antara lain didukung kondisi cuaca yang lebih kering dan meningkatnya aktivitas setelah adanya revisi RKAB.

Namun, penjualan batubara tambang sendiri UNTR hanya mencapai 746.000 ton pada Juli 2026, turun 28% secara bulanan dan 56% YoY. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kendala logistik akibat rendahnya permukaan air Sungai Barito.

Secara kumulatif tujuh bulan 2026, penjualan alat berat Komatsu UNTR mencapai 2.393 unit atau sekitar 59% dari estimasi setahun penuh. Sementara itu, produksi batubara dan overburden PAMA tercatat sekitar 652 juta ton dan sekitar 68% dari target FY2026.

 

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy untuk UNTR dengan target harga Rp30.600 per saham. BRI Danareksa Sekuritas juga menaikkan pandangan taktis tiga bulan terhadap UNTR menjadi Overweight karena momentum kinerja diperkirakan lebih kuat pada paruh kedua 2026.

UNTR dinilai menjadi salah satu proxy yang menarik untuk tema kenaikan revisi RKAB.

"UNTR tetap menjadi pilihan utama kami untuk mendapatkan eksposur terhadap tema kenaikan revisi RKAB," tulis Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta dalam risetnya.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko penurunan penjualan batubara tambang sendiri serta pelemahan harga emas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×