kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pendapatan iklan pemilu tak berdampak signifikan bagi MNCN dan SCMA


Senin, 22 April 2019 / 17:49 WIB

Pendapatan iklan pemilu tak berdampak signifikan bagi MNCN dan SCMA


Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhelatan Pemilu di tahun 2019 ini rupanya tak serta merta menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten media seperti PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

Direktur Utama Media Nusantara Citra David Fernando Audy mengatakan bahwa pihaknya tak banyak membuat iklan politik karena ada aturan yang membatasi media Televisi (TV) "Soalnya marketing politik lebih banyak dilakukan di medsos dan internet karena content di sektor itu tidak diatur seketat di TV," kata David kepada kontan.co.id, Senin (22/4).


David bilang kontribusi iklan MNCN diperoleh dari perusahaan teknologi seperti Tokopedia, Shopee, Traveloka yang memang sedang gencar promosi termasuk di TV. "Mereka semua adalah client MNCN. Dan mereka spending-nya bisa ratusan miliar per tahun," ungkap David.

David pun tetap optimis bahwa MNCN bakal mencapai target peningkatan pendapatan iklan di kisaran 7% hingga 10%. Sebagai perbandingan, pendapatan iklan MNCN di akhir 2018 naik 8% sebesar Rp 7,24 triliun dibandingkan dengan akhir 2017 sebesar Rp 6,73 triliun.

Namun sayangnya ia masih enggan memaparkan soal kinerja sekaligus kontribusi pendapatan iklan MNCN di kuartal I 2019 ini. "Angka kuartal I 2019 belum keluar. Tapi sejauh ini masih berjalan sesuai target," tambahnya.

Lebih lanjut, David mengatakan bahwa setelah pemilu ini yang akan menjadi andalan bagi kinerja MNCN adalah tetap menjalin kerja sama dengan para klien iklan. "Harapan kami para klien iklan akan melanjutkan ekspansi bisnis, launching produk baru, sehingga belanja iklan meningkat," ujar dia. 

Sementara itu, dalam berita kontan sebelumnya, Sutanto Hartono, Direktur Utama PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), induk usaha SCMA pernah menyebutkan bahwa sejak awal kontribusi iklan politik saat tahun politik tidak signifikan bagi kinerja SCMA. Bahkan tidak sampai 2% saat tahun politik 5-10 tahun lalu.

Sedangkan di tahun ini, Sutanto menyebutkan ada penurunan kembali. Hal tersebut disebabkan dua faktor yakni regulasi dan variasi kampanye yang dilakukan partai.

Sutanto menjelaskan lebih jauh, untuk regulasi dinilai saat pilkada yang mana ada aturan perundangan yang mengatur alokasi dana iklan disalurkan ke KPUD. Hal tersebut bertujuan menciptakan keseimbangan antar kandidat. "Jadi dari sana mereka lari beriklan yang sulit dimonitor seperti media sosial dan umbul-umbul," paparnya.

Untuk tahun ini, ia melihat dinamika lebih netral. Hanya saja lantaran telah terbentuk variasi kampanye yang telah diterapkan partai, mereka cenderung tidak fokus beriklan pada televisi.

Walaupun begitu, pihaknya tidak ambil pusing lantaran kontribusi starting point iklan politik sangat kecil sehingga tidak mempengaruhi kinerja perusahaan. "Karena starting point-nya kecil pengaruhnya ke kami tidak ada," jelasnya.

Analis Buana Capital Gani mengungkapkan bahwa kontribusi pendapatan iklan SCMA pada pemilu 2019 tidak signifikan. "Kontribusinya kecil. Kisarannya di bawah 5%," ujar dia, Senin ini.

Lebih lanjut, ia bilang, setelah pemilu yang akan menjadi andalan kinerja SCMA adalah iklan dari perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang didukung dari stabilitas ekonomi pasca pemilu dan perbaikan daya beli masyarakat. "Yang kedua kontribusi dari perusahaan teknologi seperti Tokopedia, Shopee, Traveloka yang sedang gencar promosi termasuk di TV," tambah dia.

Maka dari sisi kinerja, ia memperkirakan pendapatan SCMA bisa naik 7% dari perolehan tahun sebelumnya. Sedangkan net profit atau laba bersih akan tumbuh 10,5% dibanding tahun 2018.

 

Analis Samuel Sekuritas Yosua Zisokhi juga menjelaskan bahwa beberapa emiten termasuk MNCN dan SCMA sebelum pemilu pernah mengatakan memang lonjakan permintaan iklan akan naik pada pemilu. "Namun pendapatan dari iklan pemilu tidak terlalu berdampak signifikan," kata Yosua hari ini.

Yosua bilang, setelah pemilu usai, kinerja emiten-emiten media seperti MNCN dan SCMA akan dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Tantangan utama sektor media adalah berkembangnya konten iklan digital atau online yang semakin banyak digunakan oleh perusahaan yang ingin mengiklankan produk-produk mereka.

Selain itu, shifting dari media cetak dan elektronik ke media online memerlukan waktu sehingga konten-konten berkualitas juga tetap dipertahankan guna menarik minat dari para pemirsanya yang pada akhirnya memberi ruang pada kenaikan harga iklan. Saat ini, pertumbuhan harga slot iklan sedang stagnan. "Oleh sebab itu, langkah yang perlu diperhatikan adalah mengikuti arah pasar dengan mengembangkan media online sehingga pendapatan terjaga," ujar dia.

Untuk tahun 2019 ini, Yosua memperkirakan pendapatan dan laba bersih MNCN dan SCMA akan lebih sedikit melambat. Yosua memperkirakan pendapatan MNCN hingga akhir 2019 akan tumbuh 2,7% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan laba bersih akan tumbuh 20% dari tahun 2018.

Sebagai perbandingan MNCN mencatat pendapatan yang tidak diaudit sebesar Rp 7,44 triliun atau naik 6% year on year (yoy) di akhir 2018. Adapun, laba bersih MNCN sepanjang 2018 mencapai Rp 1,6 triliun, tumbuh 2% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,57 triliun.

Untuk SCMA, Yosua mengestimasikan pendapatannya akan tumbuh 4% dibanding tahun lalu. Sementara laba bersih akan naik 30% dari perolehan tahun 2018.

Asal tahu saja, SCMA mencatat pendapatan sebesar Rp 5 triliun atau naik 12% year on year (yoy) di akhir 2018. Adapun, laba bersih SCMA sepanjang 2018 mencapai Rp 1,48 triliun, tumbuh 11% dibandingkan 2017 yang mencapai Rp 1,33 triliun.

Dari sisi saham, Yosua merekomendasikan beli saham MNCN dan SCMA. Dengan pertimbangan bahwa kedua emiten tersebut mempunyai pangsa pasar media yang terbesar di Indonesia. "Target harga MNCN di level Rp 1.225 per saham dan target price SCMA di level Rp 2.230 per saham," pungkas dia. 

Gani merekomendasikan beli saham SCMA target harga di level Rp 1.975 per saham. Adapun pada penutupan hari ini harga saham MNCN turun 4,17% ke level Rp 805 per saham. Sedangkan harga saham SCMA turun 2,31% ke level Rp 1.695 per saham. 


Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×