Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) membukukan kinerja keuangan yang kurang memuaskan sepanjang 2025 di tengah dinamika harga energi global. Terlepas dari itu, DSSA memperlihatkan progres signifikan pada upaya transformasi bisnis perusahaan.
Pendapatan usaha DSSA mengalami penurunan 7,62% year on year (yoy) menjadi US$ 2,79 miliar pada 2025. Alhasil, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk DSSA juga tergerus 25,41% yoy menjadi US$ 230,54 juta.
Di sisi lain, total aset DSSA menguat menjadi US$ 4,41 miliar pada 2025 dengan posisi ekuitas yang kokoh sebesar US$ 2,26 miliar.
Baca Juga: Chandra Asri Pacific (TPIA) Raih Laba Bersih US$ 1,49 Miliar pada 2025
Manajemen DSSA menyebut, capaian ini menegaskan ketahanan dan fleksibilitas model bisnis DSSA dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah volatilitas pasar, sekaligus memperkuat fondasi untuk percepatan transformasi jangka panjang menuju bisnis energi bersih dan energi terbarukan serta diversifikasi usaha ke sektor teknologi.
Salah satu lompatan strategis DSSA terlihat pada lini bisnis teknologi dan infrastruktur digital. Pendapatan DSSA dari segmen TV kabel, internet, dan layanan digital tumbuh signifikan menjadi US$ 211,79 juta pada 2025, naik dari US$ 144,08 juta pada 2024.
Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi layanan internet melalui anak usaha PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan mulai beroperasinya pusat data komersial melalui anak usaha, PT SMPlus Sentra Data Persada (SM+) yang kini menjadi pilar strategis baru dalam portofolio teknologi DSSA.
Di sektor energi, DSSA mengakselerasi pengembangan energi surya dan panas bumi. Selain mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi 1 gigawatt (GW) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, DSSA mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti dengan total potensi 440 megawatt (MW) yang diproyeksikan menjadi sumber baseload listrik hijau untuk mendukung keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.
Eksplorasi panas bumi sedang berlangsung di enam wilayah strategis, dari Jawa Barat (Cisolok dan Cipanas), Sumatra, hingga Flores dan Sulawesi Tengah sebagai bagian dari upaya menggeser ketergantungan pada energi fosil menuju bauran energi bersih.
Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya menyampaikan, di tengah dinamika industri dan kondisi geopolitik global yang penuh tantangan pada tahun 2025, DSSA dapat mempertahankan kinerja operasional yang solid dan mempercepat penetrasi di sektor infrastruktur digital serta langkah transisi yang terdiversifikasi ke energi baru dan terbarukan.
"Ke depan, DSSA akan terus memperkuat portofolio bisnis yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan energi berkelanjutan,” ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (26/3/2026).
Dengan mengintegrasikan layanan infrastruktur digital dan energi rendah karbon, DSSA berkomitmen menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan sekaligus mendorong percepatan transformasi ekonomi hijau di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













