kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Pemulihan ekonomi bisa picu membaiknya risiko gagal bayar obligasi korporasi


Senin, 01 November 2021 / 09:56 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi foto Obligasi. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus Covid-19 di Indonesia tiap hari terus melandai. Aktivitas masyarakat pun semakin longgar dan optimisme pemulihan ekonomi semakin di depan mata. Hal ini ditengarai akan mengurangi risiko gagal bayar obligasi korporasi ke depan.

Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Hendro Utomo mengungkapkan secara umum, dengan pulihnya ekonomi Indonesia diharapkan kondisi pembayaran utang para emiten juga akan semakin membaik. Menurutnya, hal ini juga dapat memicu pulihnya tingkat kepercayaan dari kreditur dan investor terhadap para emiten.

“Dengan demikian, kemampuan emiten dalam menggalang dana melalui penerbitan surat utang ke depannya juga akan meningkat,” kata Hendro kepada Kontan.co.id, Sabtu (30/10).

Walau begitu, ia bilang sejauh ini pihaknya belum mengubah pandangannya mengenai sektor dan rating tertentu yang mengalami kenaikan risiko gagal bayar. Hendro menjelaskan, risiko gagal bayar masih cenderung lebih tinggi pada emiten yang secara fundamental lebih terdampak oleh pandemi, terlepas dari sektornya.

Baca Juga: Penempatan dana bank pada obligasi korporasi meningkat, ini penyebabnya

Ia mencontohkan, emiten yang kemampuan kasnya sangat terdampak pandemi, memiliki kewajiban keuangan yang harus dilunasi dalam waktu dekat, hingga tidak didukung oleh grup yang memiliki kemampuan lebih kuat adalah emiten yang saat ini tergolong punya peringkat rendah.

Menyambut tahun depan, Hendro meyakini kuncinya terletak pada seperti apa kondisi pandemi Covid-19 yang harus dihadapi. Selama pandemi tidak mengalami pemburukan yang signifikan, ia melihat peluang risiko gagal bayar surat utang akan lebih termitigasi. 

“Khususnya, ketika emiten-emiten yang secara fundamental cukup terdampak tadi mampu memperbaiki kemampuan menghasilkan arus kas dari kegiatan operasional maupun pendanaan dari eksternal,” imbuh Hendro

Hendro memperkirakan, pada tahun depan nilai penerbitan obligasi korporasi akan mencapai Rp 140 triliun.

Selanjutnya: Untuk refinancing, Tower Bersama Infrastructure (TBIG) rilis surat utang US$ 400 juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×