kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Pemerintah batasi tarif tes PCR, ini siasat Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)


Selasa, 06 Oktober 2020 / 21:19 WIB
Pemerintah batasi tarif tes PCR, ini siasat Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)
ILUSTRASI. Pemerintah akan menetapkan harga swab test atau PCR test maksimal Rp 900.000.


Reporter: Kenia Intan | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan menetapkan harga swab test atau PCR test maksimal Rp 900.000. Keputusan itu disampaikan oleh Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Airlangga Hartarto, Jumat (2/5). 

Berdasar catatan Kontan.co.id, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan menerbitkan surat edaran terkait aturan baru itu. Menanggapi pembatasan tarif PCR test, emiten rumah sakit PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) mengungkapkan bahwa pihaknya akan mematuhi aturan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah menghadapi pandemi Covid-19. 

Walau berkomitmen akan mematuhi tarif maksimal harga PCR test, Investor Relation Mitra Keluarga Karyasehat Aditya Widjaja tidak memungkiri ini menjadi tantangan bagi perusahaan. Sebab, batasan tarif otomatis akan menekan margin yang dikantongi MIKA melalui layanan PCR test. 

"Memang tidak rugi. Masih ada margin, cuma tidak sebesar sebelumnya," kata Aditya kepada Kontan.co.id, Selasa (6/10). Asal tahu saja, selama ini MIKA memberikan layanan PCR test dengan harga Rp 1,5 juta. Hasil dari tes tersebut akan diterima pelanggan dalam waktu dua hari kerja. 

Baca Juga: Meski Kunjungan Pasien Turun, Pendapatan RS dari Rawat Inap Tetap Tumbuh

Aditya menambahkan, adanya tarif maksimal PCR test kemungkinan akan berpengaruh terhadap lama waktu hasil tes akan diterima oleh pelanggan. Sebab, pihaknya akan mengambil langkah efisiensi dengan memaksimalkan kapasitas alat untuk memproses sampel. 

Asal tahu saja, untuk memaksimalkan kapasitas alat tes diperlukan lebih banyak sampel. Sehingga, diperkirakan memerlukan waktu lebih lama untuk mengumpulkan sampel-sampel tersebut. Berbeda dengan sebelumnya, berapapun sampel yang didapat akan segera diproses, sehingga waktunya menjadi lebih singkat. 

"Dengan begitu sekarang jadi ada minimal kapasitasnya. Pasti dampaknya ke waktu menunggu hasil yang lebih lama," imbuh Aditya.

Baca Juga: Dua analis ini rekomendasikan buy MIKA dan HEAL, ini alasannya

Sementara itu Aditya menilai, pendapatan MIKA dianggap tidak akan terdampak drastis dengan adanya aturan tarif PCR test. Selama ini kontribusi layanan PCR test terhadap pendapatan MIKA masih mini, hanya sekitar 5% hingga 7%. Selain itu, dengan harga tes yang lebih murah diharapkan bisa meningkatkan volume atau jumlah masyarakat yang  menjalani PCR test. 

Sekadar informasi, MIKA merasakan adanya pertumbuhan permintaan PCR test sejak bulan Juli 2020. Selain dipicu jumlah pasien Covid-19 yang masih meningkat, pertumbuhan ini juga didorong oleh permintaan dari perkantoran maupun pabrik yang menggelar PCR test secara mandiri. 

"Agustus ke September hampir dua kali lipat," ungkap dia. Adapun kenaikan tersebut berasal dari permintaan mandiri masyarakat maupun dari protokol kesahatan yang diterapkan oleh MIKA. Sejak Covid-19 melanda, salah satu protokol kesehatan yang diterapkan adalah melakukan tes terhadap pasien yang akan rawat inap. 

Baca Juga: RS Mitra Keluarga Terdampak Corona, Simak Rekomendasi Saham MIKA

Ke depan, Aditya bilang tidak akan menerapkan strategi khusus terkait layanan PCR test ini. Sebab, sifat dari layanan ini hanyalah tambahan. Fokus utama MIKA masih pada pasien rawat inap maupun rawat jalan. 

Sekadar informasi, volume rawat inap dan rawat jalan MIKA menurun masing-masing 11,43% dan 19,72% pada semester I 2020. Akibatnya, sepanjang enam bulan pertama 2020 MIKA mengalami penurunan pendapatan hingga 8,86% year on year (yoy) menjadi Rp 1,44 triliun. Di sisi lain, laba bersih MIKA melorot 19,61% yoy menjadi Rp 288,74 miliar.

Baca Juga: Di tengah pandemi Covid-19, intip rekomendasi saham rumah sakit MIKA dan HEAL

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×