kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Dipicu Ketegangan Dagang AS-China


Selasa, 14 Oktober 2025 / 20:25 WIB
Pelemahan Rupiah Berlanjut, Dipicu Ketegangan Dagang AS-China
ILUSTRASI. Proyeksi pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan Rabu (15/10/2025) setelah ditutup melemah 0,18% ke Rp 16.603 per dolar AS


Reporter: Wafidashfa Cessarry | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/10/2025). Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.603 per dolar AS, melemah 0,18% dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.573 per dolar AS.

Menurut pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi dari PT Laba Forexindo Berjangka, pelemahan rupiah hari ini utamanya disebabkan oleh sentimen eksternal, khususnya ketegangan baru antara Amerika Serikat dan China.

“Trump kembali mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100% terhadap produk China. Beijing menanggapinya dengan menjatuhkan sanksi terhadap beberapa perusahaan AS. Ketegangan ini langsung menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Ibrahim dalam riset yang diterima Kontan.co.id, Selasa (14/10/2025).

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.603 Per Dolar AS Hari Ini (14/10)

Namun demikian, Ibrahim menilai pasar masih menaruh harapan pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini. Jika pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan positif, risiko global bisa mereda dan memberi ruang pemulihan bagi rupiah.

Selain faktor eksternal, pasar juga menunggu pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang akan membahas arah kebijakan moneter dalam forum tahunan Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional di Philadelphia.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai 5,12%, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi yang solid.

Sementara itu, ekspor Indonesia pun tumbuh 7,8% secara tahunan berkat hilirisasi mineral, terutama nikel dan tembaga.

“Fundamental ekonomi kita masih kuat, inflasi terjaga, dan neraca perdagangan surplus. Namun, pasar keuangan kita masih sangat sensitif terhadap gejolak eksternal,” kata Ibrahim.

Baca Juga: Perang Dagang AS‑China Memicu Pelemahan Rupiah & Pasar Saham Asia

Sementara, analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (15/10/2025).

“Sentimen masih didominasi tensi dagang AS–China. Jika rencana pertemuan Xi–Trump gagal, pasar bisa bereaksi negatif,” ujar Lukman. Ia memperkirakan kisaran pergerakan rupiah di Rp 16.500–Rp 16.650 per dolar AS.

Senada, David Sumual, Ekonom BCA, menilai tekanan rupiah juga diperparah oleh pelemahan bursa saham domestik dan masih adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah.

“Untuk perdagangan Rabu, support rupiah berada di level Rp 16.580 dan resistance di Rp 16.700 per dolar AS,” kata David kepada Kontan.co.id.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan, rupiah bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 16.600–Rp 16.650 per dolar AS. 

Selanjutnya: Belanja Lambat, Ekonomi Kuartal III Diprediksi Jadi yang Terendah di 2025

Menarik Dibaca: Pendaftaran Sunrise Society Ke Tiga Sudah Dibuka, Bank Saqu Take Over GBK

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×