kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Pasar Saham Global Tertekan, Suku Bunga Tinggi dan Perang Timur Tengah Mengintai


Sabtu, 19 September 2026 / 05:23 WIB
Diperbarui Sabtu, 19 September 2026 / 05:36 WIB
Pasar Saham Global Tertekan, Suku Bunga Tinggi dan Perang Timur Tengah Mengintai
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham global bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (18/9/2026), setelah kerugian di bursa Eropa sebagian tertahan oleh penguatan Wall Street pada akhir perdagangan. Pasar menutup pekan yang bergejolak di tengah fokus investor terhadap kebijakan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.

Di Amerika Serikat (AS), indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil berbalik menguat setelah sempat tertekan pada awal perdagangan. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average masih ditutup di zona merah.

Dow Jones Industrial Average turun 0,18%, sedangkan S&P 500 naik 0,17% dan Nasdaq Composite menguat 0,40%.

Baca Juga: India Terjepit Pilihan Sulit soal Impor Minyak Rusia di Tengah Ancaman Tarif AS

Secara mingguan, S&P 500 dan Dow Jones mencatat penurunan, sementara Nasdaq berhasil membukukan kenaikan.

Pergerakan serupa terjadi di Eropa. Indeks saham Eropa turun 1,1% pada Jumat dan mencatat kerugian dalam sepekan. Sementara itu, indeks MSCI yang mengukur saham global naik tipis 0,07%, tetapi tetap mencatat penurunan secara mingguan.

Perhatian investor sepanjang pekan terutama tertuju pada arah kebijakan moneter global. Sejumlah bank sentral memperkuat sinyal hawkish atau pengetatan kebijakan untuk meredam inflasi.

Di saat yang sama, perang di Timur Tengah yang telah mendekati tujuh bulan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kondisi tersebut menjaga harga minyak tetap berada di atas US$ 100 per barel dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kenaikan harga energi juga mendorong imbal hasil atau yield obligasi pemerintah di sejumlah pasar utama.

Chief Investment Officer Mission Wealth Kieran Osborne mengatakan, pasar mulai menyadari bahwa lingkungan suku bunga yang lebih tinggi kemungkinan akan bertahan ke depan.

“Pasar mulai menyadari bahwa ke depan suku bunga akan berada pada level yang lebih tinggi,” ujar Osborne, dikutip dari Reuters.

Menurut dia, Federal Reserve (The Fed) telah memberikan sinyal kemungkinan menaikkan suku bunga satu kali lagi. Bank sentral global juga bergerak untuk menekan inflasi, sementara konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Bank Sentral Global Perkuat Sinyal Hawkish

Perkembangan kebijakan bank sentral menjadi sorotan utama pada pekan ini. Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, yakni 1,25%.

Keputusan tersebut sebenarnya telah diperkirakan pasar. Namun, dua anggota dewan BOJ tidak menyetujui kenaikan suku bunga sehingga keputusan tersebut justru mendorong pelemahan yen.

Baca Juga: Manchester United Kalah 3 Kali, Carrick: Ini Bukan Saatnya Saling Menyalahkan

Yen melemah 0,50% terhadap dolar AS menjadi 156,76 yen per dolar AS. Meski demikian, sepanjang September yen masih menguat sekitar 1,8%, didorong ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat kenaikan suku bunga serta mulai munculnya indikasi repatriasi dana oleh investor Jepang.

Keputusan BOJ sekaligus menutup rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia yang diwarnai penguatan retorika hawkish.

Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Rabu (16/9) dan mengambil sikap yang lebih agresif dalam memerangi inflasi. Kebijakan tersebut turut menekan yen dan membuat mata uang Jepang tersebut menuju kinerja mingguan terburuk terhadap dolar AS dalam dua tahun, dengan pelemahan sekitar 2%.

Sementara itu, Bank of England (BoE) pada Kamis (17/9) mempertahankan suku bunga Inggris. Namun, bank sentral tersebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila perang Iran berlangsung lebih lama.

European Central Bank (ECB) pada pekan sebelumnya juga mengisyaratkan perlunya pengetatan kebijakan lebih lanjut ketika menaikkan suku bunga.

Di Australia, bank sentral juga melihat sejumlah risiko kenaikan inflasi yang sebelumnya telah diidentifikasi mulai terealisasi.

Di pasar valuta asing, euro melemah 0,10% menjadi US$ 1,1488. Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen dan euro, relatif datar di level 100,19.

Harga minyak mentah Brent terkoreksi hampir 1% dan ditutup pada US$ 103,87 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah laporan Reuters menyebut China meminta Iran membantu menahan kelompok Houthi menyusul serangkaian aksi militer kelompok tersebut dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Kylian Mbappe Tinggalkan Nike, Gabung Brand Olahraga Swiss On

Harapan bahwa eksportir minyak di kawasan Teluk dapat menemukan jalur alternatif untuk mengirimkan minyak juga turut menekan harga minyak mentah. Kondisi tersebut membuat harga minyak berada di jalur penurunan secara mingguan.

Di pasar obligasi, yield kembali naik setelah aksi jual besar-besaran sepanjang pekan. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2007.

Pada perdagangan Jumat, yield US Treasury 10 tahun naik 5,73 basis poin menjadi sekitar 5%.

Yield obligasi di kawasan euro dan Inggris juga menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir sepanjang pekan, meskipun pada Jumat bergerak sedikit lebih rendah.

Sementara itu, harga emas di pasar spot naik 0,98% menjadi US$ 4.382,59 per ons troi.

Dengan perkembangan tersebut, investor global kini menghadapi kombinasi tekanan dari suku bunga yang berpotensi bertahan tinggi, kenaikan yield obligasi, serta risiko inflasi akibat tingginya harga energi dan ketidakpastian geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×