kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.940   27,00   0,15%
  • IDX 6.061   23,85   0,40%
  • KOMPAS100 782   4,58   0,59%
  • LQ45 599   3,42   0,57%
  • ISSI 210   0,47   0,22%
  • IDX30 333   2,71   0,82%
  • IDXHIDIV20 426   2,73   0,64%
  • IDX80 89   0,49   0,55%
  • IDXV30 115   0,63   0,55%
  • IDXQ30 109   0,70   0,65%

Pasar Keuangan Tertekan, Ini Sentimen yang Perlu Dicermati pada Pekan Ini


Senin, 05 Oktober 2026 / 13:05 WIB
Pasar Keuangan Tertekan, Ini Sentimen yang Perlu Dicermati pada Pekan Ini
ILUSTRASI. Pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan pada awal Oktober 2026 dengan IHSG melemah dan yield obligasi pemerintah naik (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan pada awal Oktober 2026. Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kenaikan yield obligasi pemerintah, meski sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan.

Tim Riset Syailendra Capital mencatat, IHSG melemah 3,28% sepanjang pekan lalu ke level 6.037. Pada periode yang sama, investor asing mencatatkan net outflow sebesar Rp 3,75 triliun.

Tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun atau naik ke level 7,17% pada pekan lalu. Kenaikan yield tersebut disertai dengan foreign outflow sebesar Rp 715 miliar.

Baca Juga: Dibayangi Sentimen El Nino & Beban Biaya, Begini Rekomendasi Saham Mayora (MYOR)

Sementara itu, rupiah justru mencatat penguatan tipis. Rupiah menguat 0,10% sepanjang pekan lalu ke level Rp 17.888 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) naik ke level 101,92.

Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan positif. Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia pada September 2026 kembali masuk zona ekspansi di level 52,4, meningkat dari 49,8 pada bulan sebelumnya.

"Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, naik dari 3,19% pada Agustus. Namun, inflasi inti justru turun menjadi 2,84% dari 2,92%," jelas Tim Riset Syailendra Capital dalam Weekly Research yang diterima Kontan, Senin (5/10/2026).

Perbaikan juga terlihat pada neraca perdagangan. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 melebar menjadi US$ 3,55 miliar dari hanya US$ 130 juta pada Juli. 

Pemerintah juga telah mengesahkan RAPBN 2027 bersama DPR pada 29 September 2026. Target pendapatan negara ditetapkan di atas Rp 3.400 triliun dan belanja negara di atas Rp 4.100 triliun, dengan defisit anggaran sebesar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tim Riset Syailendra Capital mencatat, Presiden Prabowo meminta APBN tetap kredibel melalui efisiensi yang terukur. Sementara itu, investasi akan lebih banyak dijalankan melalui Danantara.

Yield US Treasury Mulai Turun

Dari pasar global, yield US Treasury mulai turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun setelah Presiden NY Fed John Williams menyatakan The Fed tidak perlu terburu-buru melanjutkan kenaikan suku bunga.

Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 4 basis points (bps) menjadi 5,214%. Sementara yield tenor 30 tahun turun 4,3 bps menjadi 5,550%. Sehari sebelumnya, yield US Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,621%, level tertinggi dalam 24 tahun.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,03% ke 6.038,9 di Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: SCMA, AKRA, AADI

Tekanan terhadap ekspektasi suku bunga The Fed juga mereda setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus 2026 berada di bawah ekspektasi.

Inflasi PCE utama tercatat 0,3% secara bulanan, dibandingkan konsensus 0,4%. Sementara inflasi inti PCE mencapai 0,2%, di bawah ekspektasi 0,3%. Secara tahunan, core PCE tercatat 3,0%, dibandingkan konsensus 3,3%.

Meski demikian, Tim Riset Syailendra Capital berpandangan tekanan pada tenor panjang US Treasury masih belum hilang. 

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya term premium, defisit fiskal, besarnya pasokan Treasury, serta penerbitan utang korporasi untuk membiayai infrastruktur artificial intelligence (AI)," terang riset tersebut.

Harga Minyak Turun

Sentimen lain datang dari pasar energi. Negara-negara G7 menyepakati pelepasan hingga 100 juta barel cadangan darurat minyak mentah dan diesel dalam empat bulan ke depan yang akan dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA).

Langkah tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump menekan Eropa dengan ancaman larangan ekspor diesel AS. Pelepasan diesel dalam jumlah besar dijadwalkan dilakukan dalam 20 hari pertama. Trump kemudian menyatakan AS tidak akan memberlakukan larangan ekspor.

Merespons perkembangan tersebut, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing turun ke sekitar US$ 91 per barel dan US$ 102 per barel.

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.946 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (5/10), Asia Turun

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Pada 5 Oktober, pasar menunggu rilis ISM Services PMI September. Selanjutnya, 6 Oktober akan dirilis data neraca perdagangan AS Agustus.

Pasar juga akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September pada 7 Oktober, disusul data initial jobless claims pada 8 Oktober.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×