Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan di pasar obligasi domestik masih berlanjut seiring kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan aksi jual investor asing dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Data hingga 27 Februari 2026 tercatat yield SBN naik sekitar 1,76 basis poin (bps) secara month to date (MtD) dan 10,04 bps secara year to date (YtD). Pada periode yang sama, investor nonresiden mencatat net sell sekitar Rp 3,35 triliun di pasar SBN.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menilai pergerakan tersebut mencerminkan fenomena flight to safety di pasar keuangan global.
“Investor global cenderung mengalihkan portofolio ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS ketika risiko geopolitik meningkat,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah Rabu (4/3), BBNI Catat Penurunan Terdalam
Baru-baru ini lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings menurunkan outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB.
Berdasarkan draft yang beredar Rabu (4/3/2026) Fitch menilai perubahan outlook tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam mengelola fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Terkait hal ini, menurut Rizal tekanan di pasar obligasi saat ini belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia.
“Rasio utang pemerintah masih relatif terkendali di kisaran sekitar 38%-40% terhadap PDB. Artinya, tekanan di pasar obligasi saat ini lebih dipengaruhi kenaikan risk premium global dibanding penurunan fundamental domestik,” terang Rizal.
Di sisi lain, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin berpandangan saat ini Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah, sebab tekanan datang dari dua arah sekaligus. Sehingga, harga obligasi pemerintah di pasar sekunder cenderung tertekan sehingga turun, sementara yield atau imbal hasilnya naik.
“Kita dalam posisi sulit, karena faktor global dan faktor domestik (termasuk perubahan outlook oleh Fitch) sama-sama sedang tidak menguntungkan (pasar obligasi),” jelas Wijayanto.
Baca Juga: Outlook Negatif Fitch Ratings Bebani Rupiah, Waspada Tembus Rp 17.000 per dolar AS
Ke depan, Rizal memandang prospek pasar obligasi Indonesia akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik dan harga energi global. Jika tensi global mereda, yield SBN berpotensi kembali stabil karena imbal hasil obligasi Indonesia masih relatif menarik dibanding negara emerging markets lainnya.
Sebaliknya, apabila konflik berlanjut dan harga minyak meningkat, tekanan terhadap inflasi, nilai tukar rupiah, serta pembiayaan APBN dapat membuat yield obligasi domestik bertahan di level yang lebih tinggi.
Meski demikian, Rizal menilai potensi outflow asing dari pasar obligasi Indonesia tidak akan terlalu dalam dan cenderung bersifat sementara.
“Porsi kepemilikan asing di SBN kini hanya sekitar 14%-15%, jauh lebih rendah dibanding satu dekade lalu, sehingga risiko capital outflow besar lebih terbatas karena pasar obligasi domestik kini lebih banyak ditopang investor domestik,” bubuhnya.
Tata ulang Strategi Portofolio
Di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik, Rizal menekankan positioning strategi portofolio investor ritel sebaiknya menekankan diversifikasi dan pengelolaan risiko.
Untuk profil risiko moderat, Rizal menyebut alokasi dapat dipertimbangkan sekitar 30%-40% pada obligasi pemerintah yang relatif lebih stabil, 25%-30% pada saham khususnya sektor defensif seperti perbankan besar dan barang konsumsi, 15%-20% pada emas sebagai instrumen lindung nilai, serta 10%-15% pada kas atau instrumen pasar uang guna menjaga likuiditas saat volatilitas meningkat.
Namun, jika eskalasi konflik semakin besar dan pasar masuk fase risk-off, komposisi portofolio sebaiknya lebih defensif dengan meningkatkan porsi obligasi pemerintah sekitar 40%-50%, emas 20%-25%, sementara saham dapat diturunkan ke 15%-20% dan sisanya 10%-15% dalam kas.
“Strategi ini bertujuan menjaga stabilitas nilai portofolio di tengah tekanan pasar, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi investor untuk memanfaatkan peluang ketika kondisi mulai kembali stabil,” pungkas Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Fitch Ratings
- inflasi
- nilai tukar rupiah
- Timur Tengah
- APBN
- net sell
- pasar obligasi
- pasar keuangan global
- pasar obligasi domestik
- saham defensif
- peringkat utang
- SBN
- investor ritel
- yield obligasi
- geopolitik
- Diversifikasi
- Investasi Obligasi
- investor asing
- Strategi Investasi Obligasi
- Risiko Geopolitik
- Surat Berharga Negara
- Diversifikasi Portofolio
- Fitch Ratings Indonesia
- Fundamental Ekonomi Indonesia
- Rasio Utang Pemerintah
- Yield SBN
- Fiskal
- Harga obligasi
- outflow asing
- investor asing SBN
- Outlook Indonesia
- Pengelolaan Risiko
- Outlook Peringkat Kredit
- obligasi SBN
- APBN fiskal
- risk premium global
- pembiayaan APBN
- strategi portofolio












