Reporter: Sofyan Nur Hidayat | Editor: Edy Can
JAKARTA. PT Trada Maritime Tbk (TRAM) akhirnya membatalkan pembelian satu kapal angkut curah kering (dry bulk) jenis Supramax. Pembatalan itu terjadi menyusul kegagalan negosiasi harga. TRAM menilai harga kapal tidak sepadan dengan harga kontrak sewa yang bakal diraih oleh perusahaan.
Direktur Utama TRAM Danny de Mitta mengatakan, negosiasi pembelian kapal dengan perusahaan dari Jepang itu sebenarnya sudah hampir kelar. Namun, TRAM kalah bersaing dengan perusahaan pelayaran dari Amerika yang berani membeli dengan harga lebih tinggi. "Kami mematok harga US$ 30 juta, tapi perusahaan Amerika berani memberi harga lebih mahal," ujar dia, Minggu (4/7).
Kapal yang akan dibeli itu merupakan kapal dry bulk jenis Supramax dengan kapasitas 55.000 dwt. TRAM berencana menggunakan kapal buatan tahun 2000 itu untuk memenuhi permintaan sewa di pelayaran internasional.
Setelah pembelian dry bulk jenis Supramax batal, kini TRAM sedang bernegosiasi dengan perusahaan Jepang lain untuk membeli kapal dry bulk yang lain. Danny berharap negosiasi berlangsung lancar sehingga kapal itu bisa dibawa ke Indonesia Juli ini.
Pada tahun 2010 ini, TRAM berencana membeli 5 unit kapal untuk memperkuat armadanya. Untuk membiayai pembelian kapal-kapal tersebut, perusahaan menyiapkan belanja modal sebesar US$ 150 juta. Namun, Danny bilang, kemungkinan biaya pembelian kapal ini akan bertambah. Sebab, harga kapal dry bulk di pasar teryata melonjak belakangan ini. "Peminatnya banyak, sementara jumlah kapal di pasaran memang terbatas," jelas dia.
Danny mengungkapkan, dana pembelian kapal dry bulk untuk sementara akan diambil dari kas internal. Namun, TRAM juga berusaha mendapatkan dana dari perbankan. Ia berharap, 20% harga pembelian kapal dari kas dan sisanya dibiayai bank.
Belum lama ini TRAM mengantongi pinjaman dari International Finance Corporation (IFC) sebesar US$ 35 juta. Bulan ini, TRAM juga mendapat pinjaman dari bank asing sebesar US$ 15 jutai.
Dana itu akan dipakai untuk memodifikasi kapal tanker penampung minyak anjungan lepas pantai atau floating storage and offloading (FSO) Lentera Bangsa yang kini berada di Hang Zhou, China.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News