kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Minyak perpanjang kenaikan karena prospek penurunan produksi OPEC


Jumat, 11 Oktober 2019 / 08:48 WIB

Minyak perpanjang kenaikan karena prospek penurunan produksi OPEC
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A worker looks at a pump jack at an oil field Buzovyazovskoye owned by Bashneft company north from Ufa, Bashkortostan, Russia, July 11, 2015. REUTERS/Sergei Karpukhin/File Photo


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kembali naik pada awal perdagangan Jumat (11/10). Setelah negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengisyaratkan pengurangan pasokan yang lebih dalam.

Selain itu, optimisme dihidupkan kembali atas pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan China untuk mengakhiri perang dagang.

Mengutip Bloomberg, pukul 08.25 WIB, minyak Brent pengiriman Desember 2019 ke US$ 59,48 per barel atau naik 0,64%. Melanjutkan kenaikan tiga hari berturut-turut.

Baca Juga: Prospek ekonomi melemah, OPEC kembali buka opsi pangkas pasokan minyak tahun depan

Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman November 2019 ke US$ 53,85 per barel atau naik 0,56%. Pada sesi sebelumnya, WTI menyelesaikan 1,8% lebih tinggi pada US$ 53,55 per barel.

Kemarin, Mohammad Barkindo, Sekretaris Jenderal OPEC mengatakan, semua opsi ada di atas meja, termasuk pengurangan pasokan yang lebih dalam untuk menyeimbangkan pasar minyak. Keputusan akan diambil pada pertemuan Desember antara OPEC dan para mitranya, kata Barkindo.

OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global 2019 menjadi 0,98 juta barel per hari (bph), sementara meninggalkan perkiraan pertumbuhan permintaan 2020 tidak berubah pada 1,08 juta barel per hari, menurut laporan bulanan OPEC.

Baca Juga: Harga minyak WTI bisa kembali ke US$ 60, ini syaratnya

Di luar OPEC, pembicaraan perdagangan antara AS dan China juga tetap menjadi fokus perhatian pasar karena dua ekonomi utama dunia itu berusaha untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan lebih dari satu tahun tersebut.

"Amerika Serikat adalah konsumen minyak global terbesar sementara China, pendorong terbesar pertumbuhan permintaan minyak tahun-ke-tahun," kata Stephen Innes, analis Asia Pasifik AxiTrader dilansir dari Reuters.


Reporter: Yudho Winarto
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan


Close [X]
×