kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Meski tak sebaik tahun lalu, prospek reksadana pendapatan tetap masih paling positif


Selasa, 04 Februari 2020 / 19:37 WIB
Meski tak sebaik tahun lalu, prospek reksadana pendapatan tetap masih paling positif
ILUSTRASI. ilustrasi reksadana. KONTAN/Muradi/2019/09/17

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Catatkan pertumbuhan return paling tinggi sepanjang Januari 2020, prospek reksadana pendapatan tetap diyakini masih jadi yang paling menarik di tahun ini. 

Menurut data Infovesta Utama, per 31 Januari 2020 Infovesta 90 Fixed Income Fund Index mencatatkan pertumbuhan tertinggi yakni 1,74% dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Tangani reksadana yang bermasalah, ini yang dilakukan OJK

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan, ekspektasi bahwa suku bunga acuan bakal turun menjadi sentimen positif bagi kinerja reksadana pendapatan tetap. 

Ditambah lagi, volatilitas yang terjadi di pasar saham membuat prospek obligasi menjadikan produk reksadana pendapatan tetap jadi yang paling menarik tahun ini. "Ini akan berlangsung lama, di tahun ini saya sarankan porsi investasi saham investor 20% saja, sedangkan 50% lagi di obligasi," kata Wawan kepada Kontan, Selasa (4/2).

Meskipun begitu, Wawan menilai agak sulit bagi reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan tahun lalu. Itu karena, potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI7DRR) di 2020 tidak akan sebanyak tahun lalu.

Dengan memprediksikan penurunan suku bunga acuan hanya dua kali saja di tahun ini, maka Wawan memperkirakan yield atau imbal hasil untuk reksadana pendapatan tetap di kisaran 7% hingga 7,5%. "Sulit untuk mengulang tahun lalu, yang bisa memberikan (yield) 10% lebih," jelasnya. 

Baca Juga: Banyak reksa dana bermasalah, OJK akan beri perlakuan sama ke MI

Direktur Investasi PNM Investment Management (PNM IM) Solahudin mengungkapkan, peluang suku bunga acuan global berada dalam tren rendah masih akan terbuka tahun ini. 

Tentunya, kondisi tersebut akan membuka prospek harga di instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN) akan bertahan setahun ke depan. "Dengan begitu, reksadana yang memiliki underlying aset berupa SBN masih akan tumbuh dengan baik," ungkap Solahudin.




TERBARU

Close [X]
×