kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   -20.000   -0,78%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Mengintip Peluang Pergerakan Rupiah di Bawah Komando Pimpinan Baru


Senin, 19 Februari 2024 / 22:27 WIB
Mengintip Peluang Pergerakan Rupiah di Bawah Komando Pimpinan Baru
ILUSTRASI. Tekanan terhadap rupiah sudah berlalu seiring meredanya faktor Pemilu.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah sudah berlalu seiring meredanya faktor Pemilu. Kendati begitu, pergerakan rupiah cenderung masih dipengaruhi faktor eksternal.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan bahwa potensi Pemilu satu putaran meredakan tekanan terhadap rupiah. Namun, apabila terjadi ketegangan politik, maka rupiah bisa kembali tertekan.

Merujuk pada hasil hitung cepat, Lukman menilai Prabowo-Gibran akan melanjutkan sebagian besar kebijakan Presiden Joko Widodo. "Dalam jangka pendek, rupiah yang sudah tidak tertekan akan berkonsolidasi dan arah selanjutnya akan tergantung pada dolar AS dan data-data ekonomi domestik," ujar dia kepada Kontan.co.id, Senin (19/2).

Di sisi lain, pergerakan rupiah cenderung tertekan di pekan Pemilu. Pada Senin (12/2), rupiah dibuka di Rp 15.595 per dolar AS dan pada Jumat (16/2), rupiah berada di Rp 15.631 per dolar AS.

Baca Juga: Pilpres Berpotensi Hanya Satu Putaran, Rupiah Diproyeksi Menguat

Lukman mengatakan, tekanan pada rupiah tersebut merupakan dampak data perdagangan Indonesia yang sangat lemah. Terlihat dari data neraca perdagangan, ekspor dan impor yang seluruhnya jauh di bawah harapan.

Sampai kuartal I 2024, ia berpandangan rupiah masih akan range bound di kisaran Rp 15.500 per dolar AS-Rp 15.800 per dolar AS. Sentimen utama akan beralih ke prospek suku bunga the Fed.

"Adapun dari internal, apabila situasi politik memanas, rupiah bisa melemah dan sebaliknya rupiah tidak akan menguat signifikan walau pasca pilpres yang damai," katanya.

Oleh sebab itu, Lukman menyebut pemerintah saat ini tidak bisa berharap banyak pada ekspor dan impor. Ini seiring menurunnya harga komoditas, serta pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah Tipis, Intip Proyeksi di Perdagangan Selasa (20/2)

Sehingga, pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia (BI) diharapkan akan bisa terus menggunakan tingkat suku bunga dan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, hal yang melegakan adalah the Fed diperkirakan masih akan memulai siklus pemangkasan suku bunga tahun ini sehingga juga akan menurunkan tekanan pada rupiah.

Sementara itu, di AS juga akan melakukan Pemilu. Lukman menilai momentum tersebut juga dapat mempengaruhi rupiah. "Bisa, namun saat ini belum ada reaksi dan antisipasi dari investor," katanya.

Untuk jangka panjang atau tahun ini, Lukman memperkirakan rupiah masih akan berkisar di Rp 15.000 per dolar AS-Rp 16.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×