Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, rugi bersih yang dialami EXCL lebih bersifat pada kerugian akuntansi sebagai dampak pasca merger dengan Smartfren.
Usai merger, EXCL harus menanggung depresiasi dipercepat, peningkatan biaya integrasi, dan impairment aset. Jika faktor non-tunai ini dikeluarkan, bukan tidak mungkin EXCL mampu membukukan laba.
Peluang EXCL untuk segera memulihkan kinerjanya pada 2026 terbuka lebar, utamanya jika target pertumbuhan EBITDA EXCL sebesar dua kali lipat dari pertumbuhan pendapatan bisa tercapai.
Baca Juga: XLSmart Telecom (EXCL) Bagikan Dividen Tambahan Rp 2,89 Triliun
Hal ini bisa dipenuhi seiring rampungnya integrasi EXCL pasca merger pada semester I-2026.
"Sehingga, beban depresiasi dipercepat akan terhenti dan perusahaan bisa memulai sinergi efisiensi biaya," ujar dia, Jumat (13/2).
Maka dari itu, EXCL mesti bisa memastikan eksekusi sinergi merger yang ditargetkan mencapai US$ 250 juta-US$ 300 juta berjalan lancar. Emiten ini juga perlu terus disiplin mengelola capital expenditure (capex) sekaligus menjaga beban bunga.
Wafi pun merekomendasikan hold saham EXCL dengan target harga di level Rp 2.800 per saham.
Selanjutnya: IHSG Menguat 3,94% Sepekan, Simak Review Pergerakannya
Menarik Dibaca: 8 Makanan dan Minuman Sehari-Hari yang Terpapar Mikroplastik Paling Banyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News










![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)