kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Menakar prospek saham HRUM


Senin, 27 April 2015 / 16:05 WIB
Menakar prospek saham HRUM
ILUSTRASI. Analis memberikan rekomendasi saham yang terkena rombak pada Indeks Saham MSCI Global Standard dan MSCI Small Cap


Reporter: Sinar Putri S.Utami | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Tren harga batubara yang menurun dari awal tahun masih menjadi ancaman bagi industri batubara. Maka tak heran, para perusahaan harus melakukan efisiensi besar-besaran termasuk memberhentikan tambang batubara yang ada.

Salah satu perusahaan yang mengambil langkah tersebut adalah PT Harum Energy Tbk (HRUM). Analis KDB Daewoo Securities Renaldy Effendy dalam risetnya yang diterima KONTAN pada 27 Maret 2015 mengatakan, sejak akhir semester pertama tahun lalu HRUM telah menghentikan produksi di dua tambang batubaranya yang berlokasi di Kalimantan Timur yakni, PT Santan Batubara (SB) dan PT Tambang Batubara Harum (TBH).

Menurut Renaldy, hal itu dilakukan karena harga batubara yang turun dan biaya produksi yang tidak efisien. Tercatat, sejak awal tahun harga batubara turun 5,26% menjadi US$ 55,80 per metrik ton (MT). Sekadar tahu saja, sejauh ini hasil produksi tambang SB menyumbang 16% dari total produksi HRUM. "Penundaan operasi di TBH ditunda sampai adanya pemulihan harga batubara ke level US$ 70 per ton," tulis dia.

Andre Varian, Analis Ciptadana Sekuritas berpendapat penutupan tambang batubara HRUM itu merupakan langkah yang tepat. "Perusahaan bisa melakukan penghematan dengan menghentikan produksi batubara berkalori tinggi seiring dengan penurunan batubara," tutur dia kepada KONTAN.

Tak hanya itu, di tahun lalu perusahaan juga mengalami kerugian sebesar US$ 14,7 juta akibat dari penurunan nilai investasi di Cockatooo Coal Ltd. Hal tersebut juga yang membuat harga saham HRUM jatuh.

Sehingga di tahun lalu, perusahaan mengalami penurunan pendapatan 42,9% year on year (yoy) menjadi US$ 477,63 juta. Laba bersihnya juga anjlok 99% menjadi US$ 410.792. Padahal di 2013, HRUM masih bisa mencetak laba US$ 40,8 juta.

Sementara Ariyanto Kuriniawan, Analis Mandiri Sekuritas dalam risetnya pada 9 Maret 2015 menyebutkan, dengan adanya penutupan tambang itu menjadikan HRUM sebagai perusahaan batubara pertama yang memotong produksinya secara agresif. Hal itu lantaran basis cadangan perusahaan yang rendah sehingga membuatnya kurang fleksibel dalam menyesuaikan stripping ratio alias nisbah kupas. Andre juga berharap dengan begitu strip ratio HRUM dapat menurun dari 7,3 kali menjadi 7 kali di tahun ini.

Untuk di tahun ini sendiri, Renaldy bilang perusahaan berharap mendapat keuntungan dari penguatan dollar AS mengingat porsi ekspor yang tinggi. Namun dengan melihat keadaan saat ini dimana, permintaan dari China yang juga melemah diprediksikan marjin perusahaan masih akan tertekan. "Kita tak melihat katalis positif yang bisa mendongkrak marjin perusahaan di 2015," tambahnya.

Maklum, 42% dari porsi ekspor HRUM diperuntukkan untuk China. Oleh karena itu, Andre mengatakan, HRUM saat ini hanya bergantung pada permintaan dari Korea Selatan dengan porsi ekspor 40% dari total volume penjualan.

Ariyanto juga mengungkapkan tahun ini merupakan tahun yang sulit bagi bisnis batubara. Pasalnya, ia melihat harga batubara masih belum bisa bertenaga untuk naik. Bahkan Ariyanto juga menurunkan asumsi batubara di tahun ini dari awalnya US$ 80 per ton menjadi US$ 65 hingga US$ 70 per ton. Hal yang sama juga dilakukan Andre. Ia menurunkan target harga batubara di tahun ini sebesar 2% yoy menjadi US$ 59 per ton di 2015.

Sehingga di tahun ini, Andre mengira pendapatan HRUM akan menjadi US$ 453 juta dengan laba bersih US$ 20 juta. Sedangkan, Ariyanto mengira tahun ini HRUM hanya akan mengantongi pendapatan US$ 295 juta dengan laba bersih US$ 6 juta.

Ariyanto merekomendasikan netral dengan target harga Rp 1.700. Andre merekomendasikan jual di harga Rp 1.015. Sementara Analis Bahana Securities Arandi Nugraha merekomendasikan reduce di Rp 950.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×