kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Melantai di BEI, UBC Medical Indonesia (LABS) Siapkan Strategi Saat Rupiah Melemah


Rabu, 10 Juli 2024 / 17:07 WIB
Melantai di BEI, UBC Medical Indonesia (LABS) Siapkan Strategi Saat Rupiah Melemah
Direktur Utama PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) FX Yoshua Raintjung saat pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).


Reporter: Nadya Zahira | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Rabu (10/7).  Perusahaan ini menjadi emiten ke-32 yang tercatat di BEI pada tahun 2024. 

Direktur Utama LABS FX Yoshua Raintjung mengatakan, langkah LABS masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui initial public offering (IPO) adalah bagian dari strategi meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan dan tata kelola untuk lebih baik lagi. 

Selain itu, UBC Medical telah menyiapkan sejumlah strategi di tengah kondisi pelemahan rupiah. Pasalnya, bahan baku LABS sebesar 60% berasal dari impor atau luar negeri.

Adapun strategi tersebut salah satunya yakni dengan memesan bahan baku dari jauh-jauh hari saat dolar masih belum terlalu tinggi.

"Jadi kami sudah pesan bahan baku dari sebelumnya, di waktu kondisi dolar masih belum terlalu tinggi. Tapi bahan baku yang sudah disiapkan sebelumnya itu, pasti memang tidak akan bisa mencukupi semua," kata Yoshua, Rabu (10/7).

Baca Juga: Pasca IPO, UBC Medical (LABS) Targetkan Pendapatan Rp 300 Miliar

Namun, jika memang kurs rupiah terus melemah, maka UBC Medical akan menaikkan harga jual guna menstabilkan kinerja keuangan atau mencegah terjadinya kerugian.

Selaras dengan hal ini, Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, jelang rilis data inflasi AS, rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS.

Hal ini menyusul rebound dolar AS setelah dalam pidatonya, Ketua Federal Reserve Jerome Powell tidak memberikan sinyal yang jelas akan pemangkasan suku bunga, kendati mengakui inflasi sudah menurun.

"Rupiah di akhir tahun diperkirakan akan berkisar Rp 15.800 - Rp 16.100 per dolar AS, asumsi tidak ada masalah internal pemerintahan baru Prabowo," imbuhnya.

Baca Juga: Melantai di Bursa, UBC Medical Indonesia (LABS) Oversubscribe 250 Kali

Sebagai informasi, emiten industri kesehatan ini menunjuk Lotus Andalan Sekuritas sebagai penjamin dan pelaksana emisi IPO. Setelah pembukaan, sahamnya masih bertengger di level Rp 137 per lembar saham pada pukul 09.30 WIB.

Di perdagangan perdana hari ini, harga saham LABS mentok auto rejection atas (ARA) dengan kenaikan 34,31%. Harga saham LABS ditutup di posisi Rp 137 per saham dari harga IPO yang ada di Rp 102 per saham. Adapun kapitalisasi pasar UBC Medical Indonesia mencapai Rp 541,15 miliar.

LABS menawarkan 700 juta saham. Ini setara dengan 17,72% dari modal ditempatkan dan disetor pasca penawaran umum perdana.

UBC Medical Indonesia menetapkan harga penawaran IPO Rp 102 per saham. Alhasil, LABS mengantongi dana segar Rp 71,40 miliar.

LABS berfokus pada penyediaan alat kesehatan diagnostik in-vitro (instrumen) dan consumables/reagen, yang merupakan solusi untuk mendeteksi penyakit menular dan kelainan bawaan.

UBC Medical saat ini ditunjuk sebagai distributor dari principal yang merupakan produsen bioteknologi dari negara-negara maju yang antara lain: Amerika Serikat, Jepang, dan Cina dalam memberikan teknologi terbaik untuk laboratorium di seluruh Indonesia.

Selanjutnya: PLN Ajukan PMN Sebesar Rp 3 Triliun Pada 2025, untuk Alirkan Listrik di 1.092 Desa

Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Bekasi, Depok, dan Bogor, Besok (11/7): Bogor Masih akan Alami Hujan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×