kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Megaproyek CAP2 mundur, Chandra Asri (TPIA) merevisi capex tahun ini


Jumat, 05 Juni 2020 / 15:59 WIB
ILUSTRASI. Suryandi, Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) memutuskan merevisi alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun ini. Emiten produsen petrokimia ini hanya akan mengalokasikan capex senilai US$ 135 juta untuk tahun ini. Jumlah ini turun dari alokasi sebelumnya, dimana TPIA menggelontorkan dana hingga US$ 430 juta untuk keperluan belanja modal.

Direktur Chandra Asri Petrochemical Suryandi mengatakan, revisi ini berkaitan dengan proyeksi mundurnya megaproyek Chandra Asri Perkasa 2 (CAP2) akibat pandemi corona (Covid-19). Suryandi bilang, proses final investment decision (FID) yang semula dapat ditentukan pada tahun 2021 diperkirakan mundur ke 2022.

Baca Juga: Chandra Asri Petrochemical (TPIA) bukukan kerugian US$ 17,83 juta di kuartal I 2020

“CAP2 terkendala akibat Covid-19, yang seharusnya FID tahun 2021, kami sesuaikan ke tahun 2022. Kalau FDI sudah dilakukan, pabrik sudah siap untuk dibangun,” ujar Suryandi saat telekonferensi dengan awak media, Jumat (5/6). Meski demikian, Suryandi menegaskan negosiasi dengan calon investor tetap terus berjalan, hanya saja waktunya yang mundur.

Sementara itu, per kuartal I-2020 entitas usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini telah menyerap capex sebesar US$ 46,2 juta. Suryandi mengatakan, capex tersebut digunakan untuk proyek pabrik MTBE dan Butene-1 yang ditargetkan dapat beroperasi pada kuartal III-2020 dan proyek Enclosed Ground Flare (EGF) yang ditargetkan rampung pada kuartal IV-2020.

Sepanjang tiga bulan pertama 2020, TPIA membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 17,83 juta. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, emiten petrokimia ini masih membukukan laba bersih senilai US$ 17,26 juta.

Dari sisi topline, konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan pendapatan senilai US$ 476,83 juta. Realisasi ini turun 13,7% bila dibandingkan dengan realisasi pendapatan pada kuartal pertama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 552,2 juta.

Suryandi mengatakan, kinerja TPIA pada kuartal I-2020 masih memiliki keterkaitan (eksposure) yang kuat dengan sentimen yang terjadi pada 2019, seperti perang dagang Amerika Serikat-China, tertekannya margin produk petrokimia, serta adanya kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global.

Baca Juga: Sejak awal Mei, kapitalisasi pasar TPIA & ICBP turun drastis, ini rekomendasi analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×