kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Mayoritas Saham Vale Indonesia (INCO) Masih Dipegang Asing, Ini Kata Analis


Minggu, 04 Juni 2023 / 18:23 WIB
Mayoritas Saham Vale Indonesia (INCO) Masih Dipegang Asing, Ini Kata Analis
ILUSTRASI. Aktivitas alat berat di lokasi penambangan NIKEL milik VALE Indonesia, dahulu PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Vale Indonesia


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan didivestasikan ke pemerintah Indonesia. Holding industri pertambangan, MIND ID, tengah dalam proses membeli 11% saham INCO.

Hal itu akan menjadikan MIND ID sebagai mayoritas pemegang saham emiten tambang asal Kanada itu.

Saat ini, mayoritas saham INCO dimiliki Vale Canada Limited sebesar 44,3%, Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) 15%, dan Inalum (MIND ID) 20%. Sisanya, 20,7% dikuasai publik di pasar modal.

Keinginan MIND ID ini seiring dengan kewajiban Vale Indonesia melakukan divestasi sahamnya sebanyak 11% sebagai syarat pengalihan status kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus atau IUPK.

Baca Juga: Mencermati Prospek Saham Vale Indonesia (INCO) di Tengah Isu Divestasi Saham

Jika proses pembelian saham itu disetujui, maka MIND ID nantinya akan memiliki 31% saham INCO. Saat ini, mayoritas saham INCO masih dikuasai oleh asing.

Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta melihat, saham INCO yang mayoritas dikuasai asing menggambarkan bahwa para investor asing berekspektasi kinerja INCO ke depannya masih progresif.

Penguasaan asing juga mencerminkan bahwa good corporate governance (GCG) INCO masih positif, karena mereka percaya dengan kinerja INCO.

Hal itu, kata Nafan, bisa menjadi sentimen positif untuk kinerja fundamental INCO dalam jangka panjang. Sebab, investor asing melihat GCG INCO masih baik untuk meningkatkan kinerja topline dan bottomline secara berkesinambungan.

 

 

“Upaya itu tentu terlepas dari masalah tren volatilitas harga komoditas dunia akibat faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan probabilitas resesi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (2/6).

Nafan menuturkan, hilirisasi harus juga harus diteruskan, karena program tersebut bersifat jangka panjang untuk meningkatkan kinerja average selling price (ASP). Sebab, added value atas nikel dinilai mampu menembus kinerja fundamental INCO.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Menuai Berkah Penurunan Biaya Bahan Bakar

“Jadi, ke depannya INCO tidak lagi menjual ekspor raw materials. Hilirisasi ini bagus untuk menunjang perluasan ekosistem electric vehicle (EV),” tuturnya.

Di sisi lain, konsolidasi INCO dengan MIND ID masih cukup lama, yaitu pada tahun 2025. Namun, para investor sudah mengatisipasi bahwa konsolidasi akan terjadi.

Mereka menilai bahwa konsolidasi INCO dengan MIND ID bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kinerja BUMN lain di bawah MIND ID, sehingga ekosistem EV bisa terbangun secara terpadu.

Namun, kinerja INCO, baik saat dipegang asing maupun BUMN, itu masih bergantung pada good corporate governance (GCG).

“Selama GCG diterapkan secara efektif, baik asing atau BUMN yang punya INCO, jadinya sama saja. Jika kinerja fundamental INCO bagus, harga sahamnya nanti ikut terkerek,” paparnya.

Nafan merekomendasikan Accumulate untuk INCO dengan target harga di Rp 7.250 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×