kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.404.000   -15.000   -1,06%
  • USD/IDR 16.195
  • IDX 7.294   -26,58   -0,36%
  • KOMPAS100 1.142   -7,10   -0,62%
  • LQ45 920   -3,25   -0,35%
  • ISSI 218   -1,41   -0,64%
  • IDX30 460   -1,72   -0,37%
  • IDXHIDIV20 554   -0,98   -0,18%
  • IDX80 128   -0,53   -0,41%
  • IDXV30 130   0,41   0,32%
  • IDXQ30 155   -0,33   -0,21%

Mayora Indah perluas fasilitas produksi demi dorong volume produksi


Sabtu, 26 Mei 2018 / 22:30 WIB
Mayora Indah perluas fasilitas produksi demi dorong volume produksi


Reporter: Willem Kurniawan | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya beli masyarakat boleh saja belum pulih. Namun hal itu tidak menghalangi PT Mayora Indah Tbk menjalankan ekspansi. Emiten produsen barang konsumer ini menyiapkan dana sekitar Rp 1 triliun untuk mendorong kapasitas produksi.

Emiten yang sahamnya diperdagangkan dengan kode MYOR ini berniat menambah kapasitas produksi dengan melakukan perluasan fasilitas produksi. "Dana yang diperlukan kurang lebih Rp 1 triliun, berasal dari kas internal dan pinjaman bank," ujar Andre Sukandra Atmadja, Direktur Utama MYOR, Jumat (25/5).

Dengan peningkatan kapasitas produksi ini, MYOR berharap bisa mendorong volume penjualan, baik untuk domestik maupun ekspor. Saat ini, kontribusi penjualan ekspor dan domestik seimbang.

Di kuartal satu lalu, penjualan lokal MYOR mencapai Rp 3,09 triliun, atau sekitar 57,14% dari total penjualan di periode tersebut. Sementara penjualan ekspor mencapai Rp 2,32 triliun. Jumlah tersebut naik 18,68% dibandingkan realisasi ekspor di kuartal I 2017. Sedangkan penjualan lokal cenderung stagnan.

Tingginya kontribusi ekspor terhadap pendapatan membantu menetralisir dampak negatif penurunan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. "Karena kontribusi ekspor mencapai 45%-50%, pengaruh fluktuasi tidak terlalu banyak, walaupun kami masih impor bahan baku sebesar 20%," jelas Andre.

Ia menuturkan, saat ini MYOR tidak memiliki pinjaman dalam mata uang asing. Sehingga MYOR tidak memiliki risiko fluktuasi nilai tukar. "Fluktuasi lebih berdampak ke ketidakpastian dalam penghitungan harga pokok produksi," imbuh Andre.

Di kuartal satu lalu, MYOR malah sukses mencetak laba kurs Rp 97,99 miliar, setelah mengalami rugi kurs Rp 20,38 miliar di periode sama setahun sebelumnya.

Sejauh ini, MYOR sudah mengekspor produknya ke 80 lebih negara. Terbaru, MYOR juga mulai memasarkan produknya di Nigeria. Emiten ini juga mengeluarkan produk baru, misal Beng-Beng Drink.

MYOR masih memilih tidak menaikkan harga produknya untuk mengerek penjualan. Meski begitu, setiap tahun emiten consumer goods ini selalu membuka peluang kenaikan harga sekitar 5%, bergantung pada beban upah pekerja dan harga bahan baku.

Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar kemarin, manajemen MYOR mendapat persetujuan untuk membagikan laba bersih 2017 sebagai dividen. Total dividen tunai yang dibagi mencapai Rp 603,68 miliar.

Dengan demikian, nilai dividen per saham dipatok sebesar Rp 27 per saham. Bila dihitung berdasarkan harga penutupan kemarin, yakni sebesar Rp 2.910, maka yield dividen MYOR mencapai 0,93%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Pre-IPO : Explained Supply Chain Management on Efficient Transportation Modeling (SCMETM)

[X]
×