Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Produsen dompet kripto perangkat keras Ledger menyelidiki laporan dugaan kehilangan aset kripto yang melibatkan perangkat yang dijual melalui salah satu reseller resminya di Asia Tenggara.
Penyelidikan ini berlangsung setelah sejumlah peneliti blockchain melaporkan dugaan pencurian aset kripto dengan nilai lebih dari US$ 72 juta.
Melansir Cointelegraph Sabtu (10/10/2026), Ledger telah meminta CryptoBilis, reseller resmi yang beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, untuk menghentikan sementara penjualan dan pengiriman produk selama proses penyelidikan berlangsung.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Berpeluang Tembus US$100 per Barel Pekan Depan
Perusahaan juga mengimbau pelanggan yang membeli perangkat melalui CryptoBilis dalam 90 hari terakhir agar tidak mengaktifkan perangkat tersebut.
Sementara itu, pengguna yang sudah mengoperasikannya disarankan mempertimbangkan pemindahan aset ke perangkat Ledger baru dengan menggunakan frasa pemulihan (recovery phrase) yang dibuat ulang.
Di sisi lain, penyelidik transaksi blockchain dengan nama tanuki42 mengidentifikasi delapan alamat kripto yang diduga berkaitan dengan pencurian aset senilai lebih dari US$ 72 juta.
Peneliti lain, Specter memperkirakan nilai kerugian melampaui US$ 86 juta, yang mencakup aset di jaringan Bitcoin, Ethereum, dan Tron.
Security Alliance (SEAL) turut mengimbau calon korban yang dananya mengalir ke alamat-alamat tersebut untuk menghubungi tim penanganan insiden mereka.
Baca Juga: Harga Emas Dunia dan Antam Diprediksi Menguat Pekan Depan, Ini Pemicunya
Meski demikian, Ledger belum memverifikasi nilai kerugian yang dilaporkan maupun memastikan adanya hubungan antara transaksi mencurigakan tersebut dan CryptoBilis.
Ledger menyatakan infrastruktur serta layanannya tidak mengalami kompromi keamanan. Perusahaan juga mengaku belum menerima laporan serupa yang melibatkan perangkat yang dijual melalui kanal penjualan resminya sendiri.
Penyelidikan atas dugaan kehilangan aset kripto tersebut masih berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














