Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Pihak emiten tetap perlu kombinasi atas hedging, penyesuaian struktur utang, penggunaan bahan baku lokal bila memungkinkan, dan penyesuaian harga secara bertahap.
"Jadi perusahaan yang paling aman adalah yang punya natural hedge, pricing power, dan disiplin biaya," imbuh Ekky, Selasa (7/4).
Raden menyebut, penyesuaian harga jual dapat menjadi opsi bagi emiten yang memiliki daya tawar tinggi di pasar. Namun, upaya ini harus dilakukan secara selektif dan hati-hati agar tidak mengganggu permintaan.
Upaya untuk perbaikan keuangan perlu komitmen yang kuat dari jajaran manajemen emiten, apa lagi jika perubahan dilakukan saat kondisi pasar sedang tidak normal.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.983 Rabu (1/4), Strategi Jangka Panjang Jadi Kunci Stabilitas
Lebih lanjut, Raden menyarankan investor agar selektif memilih saham. Dalam hal ini, investor harus mencermati secara hati-hati saham dengan missmatch valas besar dan tanpa mitigasi yang cukup berpotensi mengalami tekanan kinerja.
Sebaliknya, emiten yang masih memiliki fundamental kuat, kemampuan menjaga margin, dan manajemen risiko yang disiplin tetap layak dipertimbangkan oleh investor.
Di samping itu, investor juga bisa melakukan rotasi ke sektor berbasis ekspor atau komoditas serta memiliki potensi dividen cukup besar.
Ekky juga menyarankan investor untuk menghindari dulu emiten yang terlalu bergantung pada impor dan belum memiliki kemampuan pass-through harga produk atau jasa yang baik.
Baca Juga: Terancam Kenaikan Harga BBM dan Kurs Rupiah, Simak Strategi INTP
Di sisi lain, emiten yang punya pendapatan dolar AS, basis ekspor, atau natural hedge kuat seperti emiten tambang relatif masih lebih aman untuk dicermati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













