Reporter: Rashif Usman | Editor: Dimas Andi Shadewo
JAKARTA. Sejauh ini, indeks Kompas100 belum mampu lepas dari tekanan yang menghantam sejak awal tahun 2026. Di atas kertas, peluang pemulihan indeks saham ini masih cukup terbuka. Bergantung pada perkembangan berbagai sentimen utama di pasar.
Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Iding Pardi mengatakan, keberhasilan sebuah indeks sangat ditentukan oleh seberapa luas indeks tersebut digunakan sebagai acuan investasi. "Kalau bicara indeks harus kelihatan. Di samping metodologi, konstituennya harus bisa dijadikan benchmark. Investor juga harus melihat Indeks Kompas100 ini," kata Iding dalam acara Kompas100 Rebalancing Breakfast di The Bimasena, Jakarta, Jumat (2/10).
Iding meminta, emiten konstituen indeks Kompas100 agar lebih aktif menunjukkan kinerja, meningkatkan keterbukaan informasi dan memperluas basis investor agar lebih dilirik pasar.
Sementara Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, setelah terkoreksi cukup dalam, indeks Kompas100 berpeluang rebound teknikal pada kuartal IV-2026. Namun, belum ada indikasi, indeks ini bakal memasuki fase pembalikan arah yang kuat.
Strategi Investor
Valuasi sejumlah saham penghuni indeks Kompas100 terlihat mengalami de-rating. Meski begitu, belum ada kesimpulan valuasi seluruh konstituen indeks sudah sangat murah. Masalahnya, risk premium dan tekanan eksternal masih tinggi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, koreksi indeks Kompas100 tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, melainkan juga tekanan nilai tukar rupiah, tingginya yield obligasi, arus keluar dana asing, serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan laba emiten.
Menurutnya, valuasi Kompas100 saat ini memang relatif lebih murah dan memberikan margin of safety yang lebih baik dibandingkan awal tahun. "Namun belum menjadi alasan untuk melakukan akumulasi secara agresif pada seluruh saham di dalam indeks," jelas Nafan kepada Kontan, akhir pekan lalu.
Ruang penguatan indeks Kompas100 masih akan sangat bergantung pada kemampuan pasar meredam tekanan eksternal. Terutama pergerakan yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing. Jika tekanan tersebut mulai mereda, saham-saham yang telah terkoreksi dalam berpeluang menjadi sasaran koleksi di harga bawah.
Strategi yang lebih tepat untuk investor pada sisa tahun 2026 adalah akumulasi secara bertahap dan selektif. Imvestor memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, neraca sehat, valuasi atraktif, serta prospek pertumbuhan laba yang relatif konsisten
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













