kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Krisis Eropa Timur Memanas, Harga emas Berpeluang Semakin Berkilau


Minggu, 27 Februari 2022 / 17:31 WIB
Krisis Eropa Timur Memanas, Harga emas Berpeluang Semakin Berkilau
ILUSTRASI. Ilustrasi emas. REUTERS/Ilya Naymushin


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis geopolitik Rusia dan Ukraina membuka gerbang kepada harga emas untuk menguat. Bahkan, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang agresif turut memudar dan memberi sentimen positif bagi emas. 

Harga emas di pasar spot, Jumat (25/2) menurun 0,52% ke US$ 1.893 per ons troi. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas sempat mencapai rekor harga tertingginya di US$ 1.909 per ons troi pada Rabu (23/2).

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan sejak Rusia dan Ukraina berperang banyak faktor yang mendukung harga emas naik. Bahkan, riset Goldman Sachs Group memproyeksikan harga emas berpotensi mengarah ke US$ 2.350 per ons troi. 

Faktor utama yang membuat harga emas melambung adalah krisis geopolitik Rusia dan Ukraina yang membuat pelarian dana ke aset safe haven seperti emas dari aset berisiko. Alwi mengatakan selama ketegangan perang Rusia dan Ukraina belum mereda, maka harga emas berpotensi naik. 

"Ketidakpastian mengenai konflik dan kemungkinan menjalar terjadi lebih banyak negara yang berselisih masih mendukung harga emas naik," kata Alwi. 

Baca Juga: Dampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Ekonomi & Pasar Keuangan Indonesia Terbatas

Konflik Rusia dan Ukraina juga memicu kenaikan harga minyak. Saat harga minyak naik maka harga bahan baku lain akan naik hingga menimbulkan inflasi yang lebih tinggi. Alwi mengatakan laju inflasi yang tinggi akan mendorong kenaikan harga emas sebagai sarana lindung nilai. 

Harga emas juga berpotensi naik karena di tengah ketidakpastian akibat krisis Eropa Timur, bank sentral akan kembali memburu emas untuk menambang cadangan devisa. 

Faisyal, Analis Monex Investindo Futures menambahkan harga emas berpotensi naik karena ekspektasi pasar pada kebijakan pengetatan moneter The Fed yang agresif menurun. 
Faisyal mengatakan prediksi kenaikan suku bunga The Fed yang tadinya 50 basis poin (bps) berpotensi turun ke 25 bps, karena The Fed belum memasukkan dampak dari krisis Eropa Timur. 

Faisyal memproyeksikan, jika harga emas menembus level psikologis di US$ 2.000 per ons troi maka emas berpotensi naik ke US$ 2.100 per ons troi di akhir tahun ini. 

Sementara, Alwi memproyeksikan harga emas akhir tahun ini di US% 2.073 per ons troi. Sebaliknya, harga emas menurun jika konflik Rusia-Ukraina selesai. 

Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono memproyeksikan harga emas terbuka untuk mencapai level US$ 2.000 per ons troi. Wahyu memproyeksikan emas Antam berpotensi menguat ke Rp 1 juta-Rp 1,2 juta. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×