Reporter: Aura Putri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi perhatian perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) UMKM mencapai 4,54% pada Juni 2026, naik dari 4,41% pada Juni 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, di tengah kondisi tersebut, perbankan mulai melakukan pembersihan kredit bermasalah melalui hapus buku.
Langkah ini dilakukan setelah bank membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yakni pencadangan dana untuk mengantisipasi potensi kerugian dari kredit yang sulit tertagih.
Baca Juga: Rasio Kredit Macet UMKM di Perbankan Kian Memburuk
"Karena CKPN-nya sudah terbentuk, yang dilakukan adalah hapus buku. Dihapusbukukan sehingga justru membersihkan balance sheet mereka," kata Dian saat ditemui usai acara UMKM Finance Summit, Selasa (11/8/2026).
Menurut Dian, hapus buku dapat membantu membersihkan neraca atau balance sheet bank sehingga ruang untuk kembali menyalurkan kredit menjadi lebih terbuka.
"Kalau ada bank yang UMKM-nya secara agregat mencapai angka 5%, dia tidak bisa ekspansi lagi. Jadi CKPN-nya sudah terbentuk, kemudian dihapuskan, lalu ekspansi lagi," ujarnya.
Dian mengatakan, tingginya kredit bermasalah UMKM tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang masih terasa hingga saat ini. Sejumlah sektor usaha belum sepenuhnya pulih, sementara kondisi ekonomi global dan domestik juga belum terlalu kondusif.
"Scarring effect dari Covid ternyata memang belum semudah itu bisa pulih. Beberapa sektor belum bisa recover sama sekali," kata Dian.
Baca Juga: Risiko Kredit Macet UMKM Tembus 4,62%, BI Soroti Perlambatan Pembiayaan
Selain meninggalkan dampak pada sejumlah sektor usaha, pandemi juga mengubah pola bisnis dan konsumsi masyarakat.
Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini banyak bergeser ke layanan digital, sehingga pelaku UMKM perlu menyesuaikan model bisnisnya.
Untuk mendorong pemulihan UMKM, OJK kini melakukan analisis berdasarkan sektor usaha. Langkah ini dilakukan untuk melihat sektor mana yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan didorong pembiayaannya.
"Kita sedang banyak melakukan analisis sektoral. Kita belum bisa announce, tetapi intinya mereka sekarang akan melihat sektor mana yang paling berpotensi untuk dikembangkan dan didorong untuk diberikan pembiayaan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
