Reporter: Yuliana Hema | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat valuasi sejumlah saham semakin menarik. Termasuk emiten pembagi dividen yang menawarkan potensi dividend yield dua digit bagi investor jangka panjang.
IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 5,328.36 pada Rabu (21/10). Namun di sepanjang perdagangan, IHSG sempat masuk ke zona merah dan mencapai titik terendah di 5.185,36.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar menarik dicermati setelah koreksi harga. Selain valuasi yang lebih murah, potensi dividend yield yang tinggi menjadi pertimbangan.
Menurut Sukarno, investor bisa mulai mencicil pembelian apabila harga kembali terkoreksi, terutama pada saham perbankan yang memiliki rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) di bawah satu kali.
“Terutama saham-saham perbankan yang sudah PBV-nya di bawah satu kali. Saya melihatnya sudah bisa dibeli, diakumulasi beli, akumulasi beli bertahapnya,” jelasnya dalam paparan daring, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat 0,94%, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Kamis (22/10)
Dalam hitungan Surkarno, BMRI berpotensi menawarkan dividend yield sekitar 14%. Sementara, dividend yield BBRI bisa mencapai sekitar 13%. Lalu, TLKM berpotensi menghasilkan yield sekitar 12%.
“Kalau misalkan saat ini harganya memang dirasa sudah berada di posisi bottom, lebih baik investor coba mulai masuk lagi secara bertahap, sambil melihat bagaimana perkembangan yang ada,,” ujarnya.
Namun Sukarno mengingatkan risiko eksternal masih membayangi pasar, antara lain harga minyak yang tinggi, tekanan inflasi, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga global.
Setali tiga uang, Tim Riset Stockbit koreksi pasar dapat membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang, terutama pada perusahaan dengan fundamental solid dan riwayat pembagian dividen.
“Meski sentimen negatif berpotensi masih berlanjut dalam jangka pendek, koreksi tajam ini dapat menjadi kesempatan akumulasi bagi investor jangka panjang,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Rabu (21/10/2026).
Dari daftar saham pilihan Stockbit, MPMX dan CNMA berpotensi menawarkan dividend yield historis paling tinggi, masing-masing 17,7% dan 17,4%. Rata-rata yield tiga tahun kedua saham tersebut juga masih berada di kisaran 14%.
Tim Riset Stockbit menilai prospek MPMX relatif stabil seiring pertumbuhan penjualan sepeda motor. Sementara itu, bisnis CNMA ditopang jumlah penonton yang relatif stabil serta ketersediaan film yang akan tayang.
Pilihan lain datang dari SIDO dan BNGA. Dalam catatan Stockbit, keduanya tercatat memiliki dividend yield masing-masing 12,1% dan 11,1%, dengan rata-rata yield tiga tahun sebesar 11,6% dan 10%.
Tim Riset Stockbit juga melihat peluang yield SIDO mencapai 10% dengan asumsi laba bersih Rp 900 miliar dan seluruh laba dibagikan sebagai dividen. Adapun BNGA berpotensi menawarkan yield 9,8% jika laba bersih mencapai Rp 6 triliun dan rasio pembayaran dividen sebesar 60%.
Di sektor perbankan, BBNI turut menarik perhatian dengan yield historis 11,8% dan rata-rata tiga tahun 11,3%. Sementara itu, MSTI berpotensi menawarkan yield historis 10,9%, dengan rata-rata tiga tahun 10,1%.
Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas menyampaikan peluang dividen perlu dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan pendapatan, kemampuan menghasilkan kas, dan kekuatan neraca perusahaan.
Dalam riset yang dirilis pada 20 September 2025, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli untuk ELSA dengan target harga di Rp 1.450, ASII di Rp 7.100 dan AADI Rp 14.300. Mereka masing-masing memiliki target harga Rp 1.450, Rp 7.100, dan Rp 14.300
UOB Kay Hian memperkirakan dividend yield ELSA mencapai 12,8% untuk 2026, ASII sebesar 11,8%, dan AADI sebesar 11,9%. Khusus AADI, yield berpotensi melampaui 12% apabila perusahaan membagikan dividen spesial setelah divestasi tambang Kestrel.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham BBCA, ENRG, dan JPFA untuk Kamis (22/10)
Di luar ketiga saham tersebut, UOB Kay Hian Sekuritas turut menyoroti sejumlah peluang pendapatan dividen dari beberapa emiten lainnya, yakni MSTI, PBID, IPCC, IPCM, SPTO, RALS, dan DLTA.
Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas memperkirakan PBID berpotensi menawarkan trailing dividend yield 10,6%, ementara estimasi yield 2026 dapat mencapai 15,6%. Namun, skenario tersebut bergantung pada realisasi kinerja perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














