kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

Penjualan SBR015 Berakhir, Investor Lebih Minati Tenor 2 Tahun


Kamis, 22 Oktober 2026 / 17:15 WIB
Penjualan SBR015 Berakhir, Investor Lebih Minati Tenor 2 Tahun
ILUSTRASI. Logo savings bond ritel (SBR) ( / )


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Masa penawaran Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 resmi berakhir pada Kamis (22/10/2026) pukul 10.00 WIB. Menjelang penutupan, penyerapan SBR015 tenor dua tahun tercatat lebih tinggi dibandingkan tenor empat tahun.

Melansir data mitra distribusi Bibit pada Kamis (22/10/2026) pukul 09.59, kuota SBR015 tenor dua tahun (T2) tersisa 3,4%. Sementara itu, kuota SBR015 tenor empat tahun (T4) masih tersisa 43,2%.

Pemerintah menetapkan kuota nasional SBR015-T2 sebesar Rp 12 triliun dan SBR015-T4 sebesar Rp 8 triliun. Dengan demikian, berdasarkan data Bibit menjelang penutupan, penyerapan T2 diperkirakan mencapai Rp 11,59 triliun atau 96,6% dari kuota. Adapun penyerapan T4 diperkirakan sekitar Rp 4,54 triliun atau 56,8% dari kuota.

Baca Juga: Penjualan SBR015 Tembus Rp 12,1 Triliun, Ini Rincian Serapan Tiap Tenor

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, tingginya minat terhadap SBR015 tenor dua tahun dibandingkan tenor empat tahun mengindikasikan bahwa investor cenderung memilih jangka waktu investasi yang lebih singkat ketimbang mengejar tambahan kupon yang terbatas.

“Perbedaan penyerapan SBR015 menunjukkan bahwa investor lebih mengutamakan fleksibilitas penempatan dana daripada tambahan imbal hasil yang kecil,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Padahal, selisih kupon minimal kedua seri tersebut hanya 10 basis poin. SBR015-T2 menawarkan kupon minimal 6,75% per tahun, sedangkan SBR015-T4 menawarkan kupon minimal 6,85% per tahun.

Syafruddin bilang, selisih kupon yang hanya 10 basis poin belum memberikan insentif yang cukup bagi investor untuk memilih tenor empat tahun dibandingkan tenor dua tahun.

“Tambahan imbal hasil tersebut belum cukup mengompensasi komitmen investasi dua tahun lebih panjang,” tuturnya.

Menurutnya, kecenderungan memilih tenor pendek juga berkaitan dengan ketidakpastian suku bunga, nilai tukar rupiah, dan kondisi pasar keuangan. Dalam situasi tersebut, investor cenderung mempertahankan fleksibilitas agar dapat menyesuaikan portofolio lebih cepat.

Terlebih, SBR tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Meski tersedia fasilitas pelunasan sebelum jatuh tempo atau early redemption, penggunaannya tetap mengikuti persyaratan dan batasan yang ditetapkan pemerintah.

“Pasar justru memberikan sinyal bahwa harga risiko likuiditas dan jangka waktu investasi semakin menentukan keputusan investor,” kata Syafruddin.

Baca Juga: Jelang Ditutup, Sisa Kuota Rp 6 Triliun, Ini Cara Investasi SBR015 Kupon 6,75%-6,85%

Ia menambahkan, perbedaan penyerapan kedua tenor tersebut tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya kepercayaan investor terhadap pemerintah. Namun, pola permintaan SBR015 dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menentukan komposisi tenor, kuota, dan tingkat kupon pada penerbitan SBN ritel berikutnya.

Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara daya tarik imbal hasil bagi investor dan biaya pembiayaan negara. Pasalnya, peningkatan kupon memang berpotensi menarik lebih banyak investor, tetapi juga dapat meningkatkan beban bunga pemerintah.

Prospek ST017

Setelah penawaran SBR015 berakhir, pemerintah dijadwalkan menawarkan Sukuk Tabungan seri ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026.

Syafruddin memperkirakan ST017 berpeluang mencatat penyerapan yang positif. Kendati demikian, minat investor akan dipengaruhi oleh beberapa faktor saat penawaran berlangsung.

“Prospek penyerapan ST017 masih cukup baik, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada tingkat imbal hasil, pilihan tenor, dan kondisi pasar ketika penawaran dibuka,” ujarnya.

Meski demikian, permintaan ST017 tidak otomatis mengikuti minat investor terhadap SBR015. Persaingan dengan deposito, reksa dana pasar uang, emas, serta instrumen investasi lainnya tetap memengaruhi keputusan investor.

Keitdakpastian nilai tukar rupiah, suku bunga global, dan kebutuhan likuiditas menjelang akhir tahun juga berpotensi membatasi minat investor terhadap tenor panjang.

Karena itu, pemerintah perlu menyesuaikan strategi penerbitan SBN ritel dengan preferensi investor agar penghimpunan dana tetap optimal tanpa mengabaikan efisiensi biaya pembiayaan. 

Baca Juga: Harga Minyak WTI Menguat, Analis Proyeksikan Tren Bullish Berlanjut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×