kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Konflik geopolitik mulai mereda, rupiah bergerak di bawah Rp 14.000


Jumat, 13 Desember 2019 / 22:32 WIB
Konflik geopolitik mulai mereda, rupiah bergerak di bawah Rp 14.000
ILUSTRASI. Petugas mendorong troley yang mengangkut tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per akhir Oktober 2019 senilai Rp4.756,13 triliun atau naik sebesar Rp277,56 triliun di

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China menjadi sentimen utama yang menggerakkan rupiah dalam sepekan ini.

Di awal pekan rupiah cenderung melemah karena tidak ada kejelasan keputusan penyelesaian perang dagang AS dan China. Namun, di akhir pekan rupiah berbalik menguat karena AS beri sinyal akan setujui kesepakatan dagang fase satu dengan China.

Mengutip Bloomberg, Jumat (13/12), rupiah ditutup menguat 0,30% ke Rp 13.990 per dollar AS. Dalam sepekan jadinya rupiah menguat 0,34%.

Baca Juga: Risiko Global Berlanjut, Ekonomi 2020 Makin Tertekan

Sementara, kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah di akhir pekan menguat 0,42% ke Rp 13.982 per dollar AS. Dalam sepekan rupiah juga menguat sebesar 0,39%.

Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan rupiah cenderung bergerak menguat karena negosiasi AS dan China mulai membuahkan hasil positif.

Kabar yang beredar saat ini, Presiden AS, Donald Trump akan menandatangani perjanjian dagang fase pertama dengan China.

Dengan begitu kenaikan tarif baru AS terhadap produk China senilai US$ 160 miliar yang diumumkan pada 15 Desember berpotensi tidak terjadi.

"Ini jadi sinyal positif, kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian perang dagang mulai sirna dan membuat investor kembali buru aset berisiko," kata Deddy, Jumat (13/12).

Baca Juga: Harga emas spot turun 0,02% di level US$ 1.469,51 per ons troi

Selain itu kejelasan juga mewarnai perkembangan Brexit setelah partai Konservatif berhasil menguasai mayoritas parlemen Inggris. Asal tahu saja, dengan menangnya partai Konservatif maka Perdana Menteri Boris Johnson bisa melanjutkan masa jabatannya dan memperjuangkan Inggris keluar dari Uni Eropa.




TERBARU

Close [X]
×