kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Konflik AS-Iran Memanas, Pasar Khawatir Gangguan Suplai di Selat Hormuz


Kamis, 16 Juli 2026 / 19:06 WIB
Konflik AS-Iran Memanas, Pasar Khawatir Gangguan Suplai di Selat Hormuz
ILUSTRASI. Kenaikan harga minyak dipicu oleh gelombang serangan baru militer AS terhadap pertahanan pantai dan situs rudal Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKRTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan kembali naik setelah eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) – Iran kembali memanas.

Melansir data Bloomberg, Kamis (16/7/2026) pukul 19.00 WIB, harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Agustus 2026 di New York Mercantile Exchange  berada di level US$ 79,91 per barel, naik 0,39% dari sehari sebelumnya. Dalam sepekan, harga minyak WTI menguat 10,86%.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh gelombang serangan baru militer AS terhadap pertahanan pantai dan situs rudal Iran.

Langkah agresif tersebut diambil menyusul keputusan sepihak Washington yang memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Teheran.

Baca Juga: Sinar Eka Selaras (ERAL) Jadi Distributor Resmi Levi's di Indonesia

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra menjelaskan, ketegangan regional ini menandai babak baru dari gesekan militer AS-Iran.

Prospek pergerakan komoditas energi ke depan diproyeksikan akan terus melaju tinggi mengikuti dinamika eskalasi di medan tempur.

"Kondisi ini akan bertahan selama perang terus berlangsung dan tidak ada tanda-tanda perdamaian," kata Ariston kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Imbas dari pemanasan politik global ini diperkirakan memicu pembengkakan biaya asuransi kapal pengangkut serta membatasi pasokan di Selat Hormuz yang menjadi jalur krusial bagi seperlima perdagangan energi dunia.

Kendati tekanan non-fundamental kian solid, percepatan durasi perang diyakini masih bisa ditekan oleh kalkulasi strategi logistik global.

Ariston mengamati bahwa pihak Gedung Putih kemungkinan besar telah mengantongi peta kelemahan taktis dari pertahanan militer musuhnya.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Meningkat, Harga Minyak WTI Berpotensi Naik Lagi

"Tapi kelihatannya AS sudah tahu kunci-kunci kekuatan Iran sehingga bisa memaksa Iran untuk cepat mengakhiri perang," ujar Ariston.

Di sisi lain, potensi ancaman penutupan jalur Bab el-Mandeb menuju Laut Merah oleh milisi terafiliasi kian mempertebal sentimen kekhawatiran atas stabilitas stok energi global jangka panjang.

Hingga akhir tahun, arah harga minyak mentah internasional diproyeksikan bergerak linier dengan tensi politik di Timur Tengah.

Ariston memperkirakan patokan harga minyak WTI bakal bertahan kokoh di kisaran US$ 80–US$ 90 per barel jika konflik berjalan konstan.

Namun, apabila eskalasi militer antara kedua negara tersebut terus mendidih dan semakin meluas, harga minyak dunia diproyeksikan dapat terbang menembus level US$ 100 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×