kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45986,07   -3,86   -0.39%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja Pasar Obligasi Indonesia Masih Positif Sepanjang Semester I


Minggu, 30 Juli 2023 / 12:14 WIB
Kinerja Pasar Obligasi Indonesia Masih Positif Sepanjang Semester I
ILUSTRASI. Obligasi.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia menunjukkan performa yang positif sepanjang semester 1 2023. Hal itu terlihat dari Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik sebesar 6,48% year to date (YtD) ke level 367,1162 hingga akhir Juni 2023.

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan, kenaikan ICBI didorong oleh indeks return obligasi pemerintah (INDOBeXG-TR) yang naik 6,61% YtD dan indeks return obligasi korporasi (INDOBeXC-TR) yang terkerek 4,64%YtD.

Roby menambahkan, kurva yield PHEI-IGSYC juga menunjukkan pola bullish. Penurunan rata-rata yield terbesar dialami kelompok tenor menengah (5-7 tahun), yakni sebesar 59,95 bps YtD.

Menyusul di belakangnya adalah kelompok tenor panjang (lebih dari 7 tahun) yang turun 57,25 bps YtD. Lalu, tenor pendek (kurang dari 5 tahun) hanya turun 21,17 bps YtD.

Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap BRI Manajemen Investasi Catatkan Return Melebihi Industri

Rudy menilai, pergerakan positif pasar obligasi pada semester 1 2023 ditopang oleh tren penurunan level inflasi global terutama di Amerika Serikat.

"Hal ini turut mendorong ekspektasi jika The Fed maupun bank sentral utama lainnya di global mulai akan memperlambat laju kenaikan suku bunga acuannya," ucap Rudy.

Ekspektasi pelonggaran moneter di global juga dipicu oleh melambatnya ekonomi yang saat ini terjadi. Terjaganya fundamental ekonomi dalam negeri turut menjadi penopang penguatan pasar, seperti terkendalinya nilai tukar rupiah.

Untuk outlook pasar obligasi semester 2 2023, Roby menjelaskan bahwa valuasi pasar obligasi Indonesia berpotensi melanjutkan fase pemulihan hingga akhir tahun 2023. Faktor pendorongnya berasal dari yang terjaganya kondisi makro domestik dan adanya ekspektasi puncak siklus kenaikan suku bunga global dan dalam negeri.

Baca Juga: BRI Catat Dana Kelolaan Bisnis Wealth Management Tumbuh 20,42% pada Semester I

Namun, volatilitas diperkirakan masih membayangi pasar. Ada beberapa faktor ketidakpastian yang akan memengaruhi tingkat yield obligasi Indonesia.

Sebut saja perlambatan ekonomi China dan negara-negara maju, potensi persistennya tingkat inflasi negara-negara maju, arah kebijakan The Fed, sikap wait and see investor terhadap perkembangan geopolitik, dan pemilihan umum 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×