Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) membukukan kinerja keuangan yang solid pada Semester I-2026. Lonjakan harga amonia global menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan, meskipun perusahaan sempat menjalani turnaround maintenance terjadwal yang menekan volume produksi.
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, pendapatan ESSA meningkat 36% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$186,5 juta. Sejalan dengan itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 48% YoY menjadi US$73 juta, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham melonjak 103% YoY menjadi US$30,2 juta.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai pencapaian tersebut mencerminkan fundamental bisnis ESSA yang tetap kuat di tengah dinamika pasar komoditas global.
“ESSA berhasil membukukan pertumbuhan kinerja yang solid meskipun produksi sempat tertekan akibat turnaround maintenance. Kenaikan harga amonia mampu mengompensasi penurunan volume produksi,” tulisnya dalam riset yang dikutip Kontan, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Laba Bersih Mitra Adiperkasa (MAPI) Naik 26% di Semester I-2026, Ini Pemicu Lonjakan
Dari sisi profitabilitas, margin laba kotor ESSA meningkat menjadi 35% dibandingkan 28% pada periode yang sama tahun lalu. Margin EBITDA juga naik menjadi 39% dari sebelumnya 36%, didorong oleh kenaikan harga jual serta efisiensi operasional.
Segmen amonia masih menjadi tulang punggung bisnis perseroan dengan kontribusi sebesar 89% terhadap total pendapatan. Meski volume produksi amonia turun 8% YoY menjadi 321 ribu metrik ton akibat perawatan pabrik, harga jual rata-rata melonjak 70% YoY menjadi US$531 per metrik ton.
Kenaikan harga tersebut mampu mengangkat pendapatan segmen amonia sebesar 43% YoY menjadi US$166 juta, sehingga mampu mengimbangi dampak penurunan produksi selama periode pemeliharaan fasilitas.
Di sisi operasional, ESSA juga berhasil menyelesaikan turnaround maintenance lebih cepat dari jadwal. Proses pemeliharaan rampung dalam 34 hari, lebih singkat dibandingkan target awal selama 35 hingga 38 hari.
Penyelesaian lebih cepat ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan operasional pabrik sekaligus mengurangi potensi gangguan produksi pada periode mendatang.
Memasuki Kuartal II-2026, kondisi pasar komoditas masih memberikan dukungan terhadap kinerja perseroan. Harga amonia yang direalisasikan ESSA meningkat 42% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi US$646 per metrik ton. Sementara itu, harga liquefied petroleum gas (LPG) juga naik 43% QoQ menjadi US$770 per metrik ton.
Kenaikan harga tersebut didorong oleh terbatasnya pasokan global serta meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk di kawasan Selat Hormuz, yang turut menopang harga energi dan pupuk dunia.
Dari sisi keuangan, posisi neraca ESSA juga semakin kuat. Kas dan setara kas meningkat 50% sejak awal tahun (year-to-date/YTD) menjadi US$189 juta.
Perseroan juga mempertahankan posisi kas bersih dengan perbaikan net debt dari negatif US$126 juta menjadi negatif US$189 juta. Sementara itu, arus kas dari aktivitas operasi hampir dua kali lipat menjadi US$87,6 juta, didorong oleh peningkatan profitabilitas dan kinerja operasional.
Ke depan, Kiwoom Sekuritas Indonesia memandang prospek ESSA masih positif. Selesainya turnaround maintenance membuka peluang bagi perusahaan untuk mengoptimalkan utilisasi produksi pada Semester II-2026.
Di sisi lain, harga amonia dan LPG yang masih bertahan di level tinggi, didukung kondisi pasar global, diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi pertumbuhan kinerja perseroan pada sisa tahun ini.
“Dengan posisi kas yang kuat dan arus kas operasional yang solid, ESSA berada dalam posisi yang baik untuk menangkap peluang dari kondisi pasar komoditas yang masih mendukung,” tutup Sukarno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














